"Yang sangat kami sesalkan, ketika PDI P ini menjadi penguasa, kenapa solusi yang sudah disusun sekian lama ini tidak dipergunakan?,"Bengkulu (Antara Babel) - Gabungan mahasiswa di Provinsi Bengkulu menggelar aksi penolakan kenaikan harga BBM bersubsidi, Rabu (19/11) dan menagih Buku Putih PDIP.
"Mana Buku Putih PDIP yang pernah ditawarkan saat terjadi penolakan kenaikan harga BBM subsidi saat pemerintahan sebelumnya mau menaikkan harga," kata Koordinator aksi, Carminanda, di Bengkulu, Rabu.
Menurut dia, PDIP pernah menawarkan solusi kepada pemerintahan Presiden Susilo Yudhoyono untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi.
Carminanda, mempertanyakan status dan konsistensi partai politik tersebut membela kepentingan rakyat, setelah tidak lagi menjadi partai oposisi.
"Yang sangat kami sesalkan, ketika PDIP ini menjadi penguasa, kenapa solusi yang sudah disusun sekian lama ini tidak dipergunakan?," katanya.
Seluruh solusi partai politik pendukung utama Presiden Joko Widodo itu dimuat dalam buku putih yang diterbitkan PDIP.
Kepada
pers, Jokowi berkata, dengan menaikkan harga BBM bersubsidi sebanyak
Rp2.000 perliter maka negara akan bisa mengalihkan Rp120 triliun
anggaran belanja energi ke sektor produktif.
Buku
Putih PDIP --panduan garis politik partai politik itu dari pusat
hingga paling bawah-- dicetak pada 17 Juni 2013 dan dibagi-bagikan
secara gratis di Gedung Parlemen, Jakarta.
Adalah
Ketua Fraksi PDI P, Puan Maharani (kini menteri koordinator pembangunan
manusia dan kebudayaan Kabinet Kerja), yang menyatakan, pembagian Buku
Putih PDI P itu sebagai bentuk konsistensi PDI P memperjuangkan hak-hak
rakyat.
Mengutip solopos.com, dalam analisis
PDIP melalui Buku Putih PDIP itu, pengajuan RAPBN Perubahan 2013 oleh
pemerintahan Yudhoyono menyiratkan kegagalan pemerintahan dia untuk
mengoptimalkan penerimaan negara sehingga terjadi defisit anggaran Rp41
triliun.
Pemerintahan Yudhoyono, menurut Buku
Putih PDIP itu, menjadi ironi karena pemerintahannya mencari sumber
penerimaan baru dengan menaikkan harga BBM bersubsidi.
Pada demonstrasi di depan Gedung DPRD Provinsi Bengkulu itu, mahasiswa tidak mendapat tanggapan dari para wakil rakyat setempat, pun yang berasal dari PDIP.
Pada demonstrasi di depan Gedung DPRD Provinsi Bengkulu itu, mahasiswa tidak mendapat tanggapan dari para wakil rakyat setempat, pun yang berasal dari PDIP.
"Anggota dewan dari PDI P tidak ada di sini, kami juga tidak bisa menjawab itu," Kata Wakil Ketua II DPRD Provinsi Bengkulu, Suharto, yang menemui mahasiswa.
Pewarta: Oleh: Boyke LWUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.