"Alhamdulillah, setelah 3,5 tahun merawat tanaman lada, akhirnya kami mulai memanen bijih lada yang sudah matang,"
Toboali (Antara Babel) - Petani di Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), mulai memanen lada putih dan mereka sangat senang karena harga komoditas tersebut di pasaran cukup tinggi mencapai Rp180 ribu per kilogram.

"Alhamdulillah, setelah 3,5 tahun merawat tanaman lada, akhirnya kami mulai memanen bijih lada yang sudah matang," kata salah seorang petani lada Bangka Selatan Turi di Toboali, Kamis.

Untuk saat ini, kata dia, panen lada hanya dilakukan anggota keluarga saja, belum membutuhkan pekerja luar atau mengupah orang lain, karena baru sebagian buah lada yang sudah matang.

"Jika buah lada sudah masak semua, maka kita akan mengupah orang lain untuk memetik lada tersebut," katanya.

Menurut dia kalau memakai jasa pemetik hasil panen upahnya sesuai dengan kesepakatan antara pemilik kebun dengan pekerja, ada yang mengunakan sistem harian dan sistem per karung.

"Semua aturan itu dibuat berdasarkan musyawarah, kalau harian biasanya diupah sebesar Rp100 ribu per hari, entah kalau per karung saya tidak tahu," katanya.

Buah lada yang baru dipetik, kata dia, direndam dalam air selama satu minggu, selanjutnya dicuci kemudian baru dijemur.

"Setelah kering lada baru bisa di jual pedagang pengumpul lada di pasar," ujarnya.

Demikian juga, Rahman petani lada lainnya mengatakan sudah memanen lada di kebunnya, karena buah lada sudah matang dan harus dipanen.

"Jika tidak dipanen, maka akan mempengaruhi kualitas lada yang akan berkurang, pada akhirnya harga jual lada akan berkurang," ujarnya.

Saat ini, kata dia, harga lada putih ditingkat pedagang pengumpul sudah mencapai Rp180 ribu per kilogram.

"Alhamdulillah, saat ini harga lada cukup tinggi dan petani bisa mendapatkan keuntungan," ujarnya.

Hasil penjualan lada nanti, kata dia, untuk kebutuhan hidup sehari-hari, membeli racun hama penyakit dan pupuk tanaman, agar lada terus berbuah banyak.

"Selama ini, kami cukup kesulitan mendapatkan pupuk untuk menyuburkan tanaman, karena persediaan pupuk yang kurang dan harganya juga tinggi, sehingga petani berharap pemerintah mencari solusi ketersediaan pupuk yang kurang ini," ujarnya. 


Pewarta: Juniardi
Editor : Mulki

COPYRIGHT © ANTARA 2026