Harga daging sapi di Pangkalpinang masih bertahan,"Pangkalpinang (Antara Babel) - Harga daging sapi di Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih bertahan Rp110 ribu per kilogram meski permintaan sudah berkurang tajam hingga 50 persen dibanding sebelum Lebaran Idul Fitri.
"Harga daging sapi di Pangkalpinang masih bertahan," kata pedagang daging sapi, Yusman di Pasar Pembangunan Pangkalpinang, Senin.
Namun demikian ia memperkirakan dalam dua hari ke depan harga daging sapi akan mengalami kenaikan karena harga di daerah asal dan biaya transportasi dari Pulau Jawa ke Pulau Bangka juga mengalami kenaikan.
Menurut dia harga daging sapi di Pulau Bangka khususnya Pangkalpinang tergantung dari daerah asal. Jika harga di daerah asal naik otomatis harga di Bangka juga naik, karena hampir 100 persen daging sapi dipasok dari Pulau Jawa dan Sumatera.
"Harga daging sapi tahun ini cukup tinggi dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp90 ribu per kilogram, akibat kenaikan harga bahan bakar minyak pada awal 2015 yang menyebabkan naiknya biaya transportasi," katanya.
Ia mengatakan, tingginya harga daging sapi juga berpengaruh terhadap pemintaan yang mengalami penurunan.
"Saat ini kita membatasi pemotongan sapi hanya satu ekor per hari dibandingkan hingga tiga ekor per hari," ujarnya.
Sementara Heri, pedagang daging sapi lainnya mengatakan aksi mogok pedagang di Jakarta belum berdampak terhadap pasokan dan harga daging sapi di daerah itu.
"Kami hanya berharap harga daging sapi dan biaya pengiriman kembali turun, sehingga harga jual juga turun hingga Rp90 ribu per kilogram," ujarnya.
Ia juga mengatakan penjualan daging sapi berkurang seiring daya beli masyarakat yang melesu, sehingga pedagang cenderung merugi.
"Daging yang tidak terjual terpaksa dibekukan dan jika dalam jangka waktu tiga hari tidak terjual terpaksa dibuang karena tidak layak dijual lagi," katanya.
Pewarta: AprionisEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.