"Dalam sepekan terakhir hasil karet turun hingga 90 persen. Kami tidak bisa menyadap karet karena intensitas hujan yang cukup lebat," ujar Sidi petani karet di Pangkalpinang, Minggu.
Ia menjelaskan, cuaca yang tidak bersahabat itu membuat pendapatan petani dari karet turun drastis dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka terpaksa berutang kepada pedagang pengumpul karet.
"Selama hujan turun kami terpaksa tidak menyadap karet, apabila dipaksakan tentu getah yang baru disadap akan tumpah ke tanah karena tempat penampungan getah karet dipenuhi air hujan," ujarnya.
Ia mengatakan, sebagian besar petani memilih istirahat menderes karet karena harga di tingkat pedagang pengumpul juga mengalami penurunan yang cukup tinggi.
"Saat ini harga karet turun menjadi Rp4.500 per kilogram dari harga sebelumnya mencapai Rp12 ribu," ujarnya.
Menurut dia, untuk mengurangi utang kebutuhan sehari-hari, biaya anak sekolah dan kebutuhan lainnya sebagian petani beralih profesi menjadi kuli bangunan, mengambil upah dengan membersihkan kebun orang lain, kuli panggul di pasar dan lainnya.
"Kami berharap cuaca kembali cerah dan harga karet kembali naik, sehingga kami bisa cepat melunasi hutang dan memenuhi kebutuhan lainnya," ujarnya.
Demikian juga Bujang petani karet lainnya mengaku dalam sepekan terakhir terpaksa istirahat menyadap karet karena hampir setiap hari hujan lebat turun.
"Jika dipaksakan pada saat musim penghujan ini akan menyebabkan pohon karet rusak dan mati sehingga petani hanya bisa menyadap karet pada saat pohon karet kering saja," ujarnya.
Pewarta: pewarta: aprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026