"Kami siap menstabilkan kembali harga daging sapi dari harga Rp95 ribu per kilogram menjadi Rp75 ribu/kg dengan menambah pasokan dan stok ternak sapi di daerah itu,"Pangkalpinang (Antara Babel) - Kepala Bulog Subdivre Bangka Provinsi Bangka Belitung (Babel) Wahyu Widi menyatakan siap menekan harga daging sapi, khususnya menjelang bulan puasa dan Lebaran.
"Kami siap menstabilkan kembali harga daging sapi dari harga Rp95 ribu per kilogram menjadi Rp75 ribu/kg dengan menambah pasokan dan stok ternak sapi di daerah itu," ujarnya di Pangkalpinang, Jumat.
Ia menjelaskan bahwa kesiapan Bulog tersebut terkait dengan kebijakan pemerintah yang menugaskan Bulog ikut menjaga stabilitas harga daging sapi menjelang Ramadan dan Idulfitri.
"Kami siap saja ikut menjaga stabilitas harga daging ini. Namun, sampai saat ini, pihaknya belum mendapatkan surat edaran lebih perinci terkait dengan petunjuk teknis (juknis) dan petunjuk pelaksanaan (juklak) dari pemerintah pusat," ujarnya.
Ia mengatakan, dalam upaya menekan kenaikan harga daging itu, pihaknya akan meningkatkan stok ternak sapi dari daerah sentra peternakan sapi di Pulau Jawa, Madura, dan Sumatra karena peternakan sapi lokal masih terbatas.
Selain itu, pihaknya akan bekerja sama dengan pengusaha ternak sapi dan pemerintah kabupaten/kota untuk mempercepat penekanan harga daging sapi ini.
"Babel merupakan daerah kepulauan yang hampir 99 persen daging sapi untuk memenuhi konsumsi warga dipasok dari luar daerah," ujarnya.
Menurut dia, selama ini, minat warga mengembangkan peternakan sapi masih kurang karena mereka menilai prospek peternakan sapi kurang menjanjikan untuk meningkatkan perekonomian keluarga mereka.
"Babel merupakan daerah penghasil bijih timah terbesar di dunia dan sebagian penduduknya bekerja atau berusaha di sektor pertambangan bijih timah karena mereka menilai menambang lebih cepat menghasilkan uang dari beternak atau bertani yang membutuhkan perawatan dan butuh lama untuk menghasilkan," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, pihaknya akan berupaya mengubah sikap mental dan penilaian masyarakat ini sehingga sumber daya manusia (SDM) warga akan meningkat dan mau untuk mengembangkan peternakan dan pertanian.
"Upaya pengembangan peternakan ini, yaitu bagaimana mengubah pola pikir warga untuk menghadapi pascatimah ini karena timah ini merupakan sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui yang lama kelamaan akan habis," ujarnya.
Pewarta: pewarta: aprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.