"Sehari menjelang Isra' Mi'raj, permintaan daging sapi meningkat sekitar 50 persen karena umat Islam akan mengelar berbagai rangkaian keagamaan memperingati perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa,"Pangkalpinang (Antara Babel) - Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), naik menjadi Rp105 ribu dari harga Rp95 ribu per kilogram karena permintaan warga meningkat menjelang peringatan Isra' Mi'raj.
"Sehari menjelang Isra' Mi'raj, permintaan daging sapi meningkat sekitar 50 persen karena umat Islam akan mengelar berbagai rangkaian keagamaan memperingati perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa," ujar pedagang daging sapi, Sulaiman di Pasar Pembangunan Pangkalpinang, Rabu.
Ia mengatakan, kenaikan harga daging sapi ini belum mempengaruhi permintaan konsumen yang masih tinggi.
"Diperkirakan permintaan akan terus meningkat hingga sore nanti, karena pada Rabu (5/6) malam umat muslim akan mengelar 'nganggung', ceramah agama dan lainnya untuk memeriahkan peringatan Is'ra Mi'raj," ujarnya.
Menurut dia, tradisi 'nganggung' ini merupakan suatu kebiasaan warga Babel membawa dulang berisi makanan ke mesjid atau langgar. Nganggung merupakan rangkaian kegiatan yang mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, saling membantu antarwarga dalam suatu desa atau kampung.
"Saat ini, warga mulai mempersiapkan berbagai aneka makanan untuk disajikan usai ceramah agama di masjid, mushollah, sehingga sebagian besar harga berbagai kebutuhan di pasar mengalami kenaikan," ujarnya.
Demikian juga, Iwan pedagang daging ayam menyatakan harga daging ayam broilier naik menjadi Rp35 ribu dari harga sebelumnya Rp25 ribu per kilogram.
Harga daging ayam kampung naik menjadi Rp60 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp55 ribu per kilogram.
"Kenaikan harga daging ayam ini selain permintaan yang meningkat juga karena persediaan ayam di peternakan yang kurang untuk memenuhi konsumsi warga," ujarnya.
Menurut dia, selama cuaca tidak menentu dan biaya pemeliharaan ternak ayam yang tinggi, para peternak membatasi pembesaran jumlah ternak untuk mengantisipasi kerugian.
"Saat ini, banyak peternak yang gulung tikar karena banyak ayam yang mati diserang penyakit akibat cuaca yang tidak menentu dan tingginya harga makanan ayam membuat peternak semakin sulit mengembangkan peternakan ayam untuk memenuhi permintaan konsumen," ujarnya.
Ia mengatakan, untuk mengantisipasi kelangkaan daging ayam, pedagang menambah pasokan ayam dari luar daerah.
"Saat ini, kami mengandalkan pasokan unggas dari Palembang dan Jawa yang membutuhkan biaya transportasi yang cukup tinggi," ujarnya.
Pewarta: pewarta: aprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.