"Jika anak putus sekolah ini karena persoalan kultural, maka pendekatan yang dilakukan juga harus kultural melalui ulama, kiai, pendeta, pastur dan tokoh adat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa pendidikan itu penting,"
Pangkalpinang (Antara Babel) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengajak para tokoh agama dan tokoh adat di Provinsi Bangka Belitung untuk menekan angka putus sekolah.


"Jika anak putus sekolah ini karena persoalan kultural, maka pendekatan yang dilakukan juga harus kultural melalui ulama, kiai, pendeta, pastur dan tokoh adat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa pendidikan itu penting," ujar Staf Khusus Kemendikbud bidang Komunikasi dan Media, Sukemi di Pangkalpinang, Sabtu.


Ia menjelaskan, saat ini banyak anak yang tidak mau sekolah karena pekerjaan yang mereka lakukan lebih menjanjikan dari pada bersekolah yang banyak membutuhkan biaya pendidikan.


"Penilaian dan kebiasaan masyarakat ini keliru dan harus diubah melalui pendekatan kultural," ujarnya.


Ia mengatakan, pendekatan secara kultural ini lebih cepat dan efektif untuk mengubah penilaian keliru masyarakat dibanding kegiatan sosialisasi yang dilakukan pemerintah yang membutuhkan waktu puluhan tahun.  


"Saya tadi mendapatkan masukan dari beberapa kepala sekolah di Kota Pangkalpinang bahwa banyak anak-anak yang memilih menambang bijih timah karena banyak menghasilkan uang ketimbang bersekolah," ujarnya.


Menurut dia, menuntut ilmu di sekolah lebih penting untuk meningkatkan kecerdasan sumber daya manusia (SDM) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


"Menuntut ilmu di sekolah akan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang memadai, dari pada mementingkan pekerjaan yang hanya bersifat sementara," ujarnya.


Untuk itu, pihaknya mengajak para tokoh agama, adat dan lembaga masyarakat lainnya untuk mendorong dan memberikan pemahaman tentang pentingnya bersekolah kepada masyarakat khususnya masyarakat di pedesaan.


"Masyarakat di desa pelosok atau terpencil masih mengganggap bekerja lebih penting dibanding sekolah karena ini sudah kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun dan kebiasaan yang keliru ini karena kurangnya akses teknologi informasi," ujarnya.

Pewarta: Pewarta: Aprionis
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026