Saya mengimbau agar TKI jangan gunakan jalur mudik yang ilegal. Tapi gunakanlah jalur normal yang sudah difasilitasi secara benar.Kuala Lumpur (Antara Babel) - Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Herman Prayitno meminta para tenaga kerja Indonesia (TKI) tak lengkap dokumentasinya yang akan meninggalkan negara jiran ini untuk mudik ke kampung halaman agar tidak menggunakan jalur ilegal.
"Saya mengimbau agar TKI jangan gunakan jalur mudik yang ilegal. Tapi gunakanlah jalur normal yang sudah difasilitasi secara benar," kata Herman Prayitno kepada ANTARA di Kuala Lumpur, Selasa.
Imbauan Dubes Herman tersebut, terkait dengan adanya pemberitaan dari sebuah media terbitan Kuala Lumpur, yang memperkirakan sekitar 300 ribu TKI ilegal yang mau mudik lewat ratusan jalur tikus di sejumlah wilayah negara ini.
Dubes Herman mengungkapkan mudik lewat jalur-jalur ilegal sangat berisiko seperti ditangkap polisi, kapal bisa tenggelam dan juga bisa juga menimbulkan kematian karena kapal kecil tapi penumpangnya melebihi kapasitas yang diperbolehkan sehingga besar kemungkinan dapat tenggelam.
"Mudik lewat jalur ilegal sangat berisiko tinggi terutama terhadap keselamatan penumpang karena biasanya jumlah penumpang melebihi kapasitas yang diperbolehkan," ungkapnya.
Untuk itu, pihak KBRI juga telah melakukan sosialisasi berupa pertemuan langsung dengan sejumlah komunitas WNI yang ada di negara ini.
Bahkan KBRI juga menginformasikan sejumlah kebijakan terkait dengan para TKI melalui radio, tabloid, website maupun media sosial lainnya agar gunakan jalur yang benar.
KBRI, lanjut dia terus berkoordinasi dengan pihak Malaysia dan meminta APMM supaya mencegah perahu-perahu yang ilegal tersebut agar tidak dapat melaut.
"Kita sudah sampaikan kepada APMM agar mencegah perahu-perahu ilegal tersebut agar tidak bisa sampai melaut," ucapnya.
Arus mudik
Sebelumnya, sebuah media terbitan Kuala Lumpur menaikkan berita terkait dengan arus mudik pekerja ilegal asal Indonesia.
Disebutkan bahwa pendatang asing tanpa izin (PATI) asal Indonesia diperkirakan mulai pulang ke Tanah Air pekan ini melalui beratus-ratus jalan tikus di pantai barat Semenanjung menggunakan perahu, untuk menyambut Idul Fitri.
Wakil Kepala Operasi Maritim Malaysia (APMM) Laksamana Muda Maritim Datuk Zulkifli Abu Bakar, ratusan jalan tikus itu terletak di sepanjang perairan di Selangor, Perak, Melaka, Negeri Sembilan, dan Johor.
Lokasi-lokasi tersebut menjadi tempat berkumpul PATI Indonesia sebelum meloloskan diri melalui jalan laut karena berdekatan dengan tempat pendaratan di Indonesia yaitu Tanjung Balai dan Batam, kata Zulkifli.
Tempo perjalanan menaiki kapal antara satu hingga dua jam tergantung lokasi jalan tikus dan kawasan pendaratan.
"Berdasarkan operasi tahun-tahun lalu, kita perkirakan minggu ini adalah waktu puncak PATI Indonesia coba keluar negara bagi menyambut perayaan Idul Fitri," katanya.
Penyelundupan keluar masuk PATI melalui jalan laut bukan saja menyalahi undang-undang, namun juga mengancam nyawa akibat kapal tenggelam.
"Bayangkan kapal fiber yang hanya bisa memuat tujuh orang saja, tetapi diisi dengan 17 orang. Dengan keadaan laut bergelora dan cuaca tidak menentu, apa saja bisa terjadi," imbuh dia.
Pewarta: N. Aulia BadarEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.