Yerusalem (ANTARA) - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyetujui rencana serangan ke Kota Rafah, di Jalur Gaza paling selatan yang berbatasan dengan Mesir--tanpa mempedulikan peringatan Amerika Serikat.
Kami telah menyetujui rencana operasional untuk menyerang Rafah, kata Netanyahu dalam konferensi pers Minggu malam (31/3), sebelum dirinya menjalani operasi hernia.
Netanyahu mengklaim Rafah adalah benteng terakhir Hamas dan bersikeras untuk menyerang wilayah tersebut meskipun negara-negara lain telah memperingatkan adanya konsekuensi bencana kemanusiaan jika Israel menyerang kota yang ditinggali 1,4 juta warga Palestina.
Kami akan memasuki Rafah dan melenyapkan Hamas. Tanpa begitu, tidak ada kemenangan (bagi Israel)," kata dia.
Menurut dia, pejuang Israel di Rumah Sakit Al Shifa telah membantu mereka mengidentifikasi lokasi para militan Hamas.
Pemerintah sedang berupaya mengevakuasi penduduk sebelum menyerbu Rafah dan kami akan memasuki kota tersebut meskipun ada tentangan dari Presiden AS (Joe) Biden," ujarnya.
Pada hari ke-15, tentara Israel melanjutkan operasinya di Kompleks Rumah Sakit Al Shifa dan sekitarnya di bagian barat Kota Gaza, yang menurut kantor media otoritas Gaza telah mengakibatkan lebih dari 400 warga Palestina tewas serta sekitar 1.000 rumah hancur atau terbakar.
Mengenai tuduhan terhadap dirinya dalam kasus warga Israel yang disandera di Gaza, Netanyahu menegaskan bahwa siapa pun yang menuduhnya tidak berupaya keras untuk membebaskan para sandera, adalah salah dan menyesatkan.
Dia pun menjawab seruan dari oposisi Israel untuk mengadakan pemilihan umum lebih awal, dengan menyebutnya tuntutan seperti itu "berarti melumpuhkan negara dan menunda kesempatan untuk mencapai kesepakatan pertukaran sandera hingga enam bulan ke belakang".
Oposisi Israel menuding Netanyahu menjalankan kebijakan yang sesuai dengan tujuan politik pribadinya, khususnya niatnya untuk tetap berkuasa.
Netanyahu dianggap gagal mencapai tujuan perang, khususnya mengakhiri perlawanan Hamas dan mengembalikan pada sandera dari Gaza.
Tel Aviv saat ini menahan sedikitnya 9.100 warga Palestina di penjara-penjaranya, sementara diperkirakan ada 134 warga Israel disandera di Gaza.
Hamas telah mengumumkan kematian 70 orang warga Israel yang disandera akibat serangan udara Tel Aviv.
Sumber: Anadolu
Berita Terkait
AS: pembunuhan aktivis Turki-Amerika adalah "tindakan keji"
13 September 2024 09:29
WHO evakuasi 97 pasien dari Jalur Gaza ke Abu Dabi
12 September 2024 13:47
Kemlu pulangkan WNI yang lolos dari hukuman mati di Arab Saudi
12 September 2024 12:50
Palestina: tak ada kesepakatan dengan Israel tanpa gencatan senjata
12 September 2024 10:19
Hamas siap untuk gencatan senjata segera di Gaza sesuai usulan Biden
12 September 2024 09:42
Pengunjuk rasa desak Inggris hentikan penjualan senjata ke Israel
12 September 2024 09:01