"Stok cabai merah kurang karena pasokan cabai merah dari daerah sentra produksi cabai di Pulau Jawa dan Sumatera kurang, seiring petani di daerah itu belum panen raya,"
Pangkalpinang (Antara Babel) - Stok cabai merah tiga ton di tingkat distributor di Provinsi Bangka Belitung dinilai kurang untuk memenuhi konsumsi warga selama Ramadhan, sehingga harganya tinggi.


"Stok cabai merah kurang karena pasokan cabai merah dari daerah sentra produksi cabai di Pulau Jawa dan Sumatera kurang, seiring petani di daerah itu belum panen raya," ujar Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Babel Husni Thambrin di Pangkalpinang, Jumat.


Ia menjelaskan berdasarkan pantauan petugas di lapangan, sebanyak tiga ton cabai merah tersebut tersebar di distributor Awi sebanyak dua ton dan stok cabai di distributor Suhadi sebanyak satu ton.


"Stok cabai ini kurang dibanding tingkat konsumsi cabai merah warga mencapai empat hingga limat ton per minggu, apalagi memasuki hari besar keagamaan akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan," ujarnya.


Ia mengatakan, berkurangnya stok dan pasokan cabai ini berdampak langsung terhadap harga cabai yang bertahan tinggi, harga cabai merah kriting bertahan Rp45 ribu dan cabai biasa bertahan kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.


Sementara itu, harga cabai rawit merah bertahan tinggi Rp80 ribu per kilogram dan cabai rawit hijau bertahan Rp70 ribu per kilogram.


"Meski pasokan cabai ini didatangkan secara kontinue, namun diperkirakan harga cabai ini akan terus bertahan tinggi seiring meningkatnya konsumsi warga menjelang Lebaran Idul Fitri," ujarnya.


Menurut dia, saat ini, pasokan cabai kurang dan harga cabai di daerah sentra produksi di Pulau Jawa dan Sumatera juga tinggi, apalagi tarif angkutan barang juga mengalami kenaikan sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.


"Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan cabai warga, distributor masih mengandalkan pasokan dari luar, seiring terbatasnya hasil pertanian petani lokal," ujarnya.


Ia mengatakan, minat petani untuk mengembangkan tanaman cabai dan sayur mayur lainnya masih kurang, karena mereka menilai pengelolaan tanaman tersebut sulit dan hasilnya kurang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.


"Untuk meningkatkan kesejahteraan, warga sudah terbiasa dengan cara instan yang cepat menghasilkan uang banyak, misalnya menambang bijih timah dan lainnya," ujarnya.


Untuk itu, kata dia, kami berharap warga untuk mencoba mengembangkan tanaman ini karena cukup menjanjikan, apalagi jika petani tersebut panen cabai menjelang hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, Idul Adha dan lainnya, harga cabai bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram.


"Selama ini, warga enggan mengembangkan komoditas ini karena harga yang rendah sementara biaya pengelolaan tanaman ini cukup tinggi dan membutuhkan perawatan khusus untuk mencegah berbagai penyakit tanaman tersebut," ujarnya.

Pewarta: pewarta: aprionis
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026