Hanya beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-71, tiba-tiba muncul berita yang menggemparkan dari Pulau Batam, Kepulauan Riau, tentang bakal adanya rencana penyerangan oleh sekelompok teroris asal Indonesia yang ingin menyerbu negara tetangga Singapura.
Kelompok (teroris) menganggap pemerintah sebagai 'lawan politik' sehingga simbol-simbol nasional seperti 17 Agustus menjadi salah satu target penyerangan," ungkap Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Republik Indonesia Inspektur Jenderal Polisi Boy Rafli Amar di Jakarta,Senin (8/8).
Sebelumnya, aparat Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri menangkap empat orang tersangka perencana menyerang Singapura. Keempat tersangka itu merupakan anggota kelompok teror ISIS yang "hobi" menyerang berbagai target operasi mereka.
Gara-gara terbongkarnya rencana jahat tersebut, maka pemerintah Singapura mengucapkan terima kasihnya kepada pemerintah Indonesia khususnya jajaran Polri.
Sebelumnya, pada 5 Juli 2016, seorang tersangka pelaku teror bernama Nurohman meledakkan diri di kantor Kepolisian Resor Kota Solo, Jawa Tengah. Untung saja identitas teroris itu cepat terbongkar karena Nurohman membawa kartu tanda penduduk atau KTP istrinya .
Sebelumnya, beberapa bulan lalu terjadi penyerangan beberapa teroris di kawasan Jalan Mohammad Husni Thamrin, Jakarta Pusat atau yang lebih dikenal dengan kasus penyerbuan terhadap sebuah "tempat ngopi"di pertokoan milik PT Pesero Sarinah, sebuah badan usaha milik negara (BUMN).
Untung saja berkat kesigapan aparat kepolisian Polda Metro Jaya, penyerbuan itu berhasil dipatahkan atau digulung walaupun beberapa orang tewas termasuk para teroris. Presiden Joko Widodo yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Jawa Barat langsung mempersingkat kunjungannya itu dan segera meninjau lokasi penyerbuan.
Kehebatan aparat polisi yang membongkar rencana jahat menyerbu Singapura dan berbagai aksi lainnya itu semakin menyadarkan seluruh rakyat Indonesia bahwa ternyata masih adanya rencana- rencana tak terpuji yang dirancang berbagai kelompok teroris.
Kemudian rakyat mulai mengenal nama Bahrun Naim yang merupakan seorang teroris yang diduga tinggal di luar negeri.
Bahrun Naim diduga mencari dana bagi kelompok teroris yang menamakan dirinya Kelompok Gonggong Rebus alias KGR yang berniat jahat menyerang negara tetangga Singapura.
Sementara itu, pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla juga dipusingkan oleh beberapa aksi penyanderaan beberapa pelaut Indonesia yang diduga keras berasal dari kelompok keras Abu Sayyaf dari Filipina Selatan terutama pada saat mereka masih berada di kapal lautnya. Ada yang sudah dibebaskan, tapi juga ada sedikitnya empat warga negara Indonesia yang masih disekap kelompok Abu Sayyaf sehingga nasibnya masih terkatung-katung.
Adakah "hal positif" dari kasus-kasus terorisme di Tanah Air ini menjelang peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini?
Yang pasti adalah tindakan-tindakan terorisme itu menyadarkan bahwa seluruh masyarakat harus tahu tentang masih adanya segelintir orang yang hanya mau melakukan tindakan kekerasan hanya untuk mencapai atau meraih" cita-cita" atau "impian" mereka.
Mereka tidak peduli terhadap nasib orang-orang lain di Tanah Air demi mencapai hasrat mereka sekalipun harus melakukan tindakan-tindakan di luar kewajaran atau melebihi kepatutan seperti pemboman atau meledakkan diri sendiri seperti Nurohman di Solo..
Merenungkan diri
Menjelang peringatan HUT RI pada 17 Agustus mendatang, rakyat tentu sadar bahwa masih banyak impian yang belum bisa diwujudkan.
Dari sekitar 250 juta iwa orang Indonesia, masih puluhan juta jiwa yang tetap hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan atau apa pun istilahnya. Di Jakarta, Surabaya, Medang, Makassar dan kota-kota lainnya, masih saja terlihat ribuan atau bahkan puluhan ribu warga yang harus bergelandangan setiap harinya akibat tidak memilki rumah, tak memiliki pekerjaan yang tetap. Selain itu, entah berapa juta rakyat Indonesia lainnya yang hidupnya pontang panting mengais-ngais atau mencari beberapa ribu rupiah agar bisa hidup dan bernapas di tengah-tengah kerasnya hidup di Tanah Air yang tercinta ini.
Belum lagi betapa" sibuknya" ratusan ribu orang tua yang hidupnya" menggali" apa pun juga agar anak-anak mereka bisa bersekolah yang walaupun katanya biaya bersekolah terutama di lembaga- lembaga pendidikan milik pemerintah sudah "murah" tetap saja ada biaya- biaya tambahan yang harus dikeluarkan dari "kocek" ayah atau ibunya.
Belum lagi jika orang bicara tentang situasi atau kondisi politik mulai dari pemerintahan,lembaga dewan perwakilan rakyat di Senayan, Jakarta hingga daerah hingga lembaga peradilan.
Masyarakat harus melihat atau mendengar bahwa jika ingin menjadi wakil rakyat di DPR atau DPRD diperlukan "duit segepok" untuk bisa menjadi wakil rakyat yang terhormat. Karena pemilihan umum tinggal sekitar tiga tahun lagi, maka wakil rakyat atau yang ingin menjadi wakil rakyat harus melakukan berbagai "pendekatan" kepada pimpinan partai politik agar bisa dicalonkan menjadi wakil rakyat yang "dihormati" di mana pun juga.
Rakyat tentu belum bisa lupa bahwa ada beberapa tokoh yang belum lama dipercaya oleh Jokowi dan Jusuf Kalla untuk menjadi menteri terpaksa harus digusur dari "posisi empuknya" hanya karena dia masih merasa sebagai orang "oposisi" atau tokoh vokal" sehinga bisa "menghajar" sesama menteri sehingga dia lupa bahwa dia sudah menjadi anggota kabinet yang tugas utamanya cuma satu yaitu memakmurkan atau menyejahterakan masyarakat.
Situasi masyarakat yang masih belum menentu walaupun harus diakui sudah banyak kemajuan sejak pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla seharusnya menyadarkan orang-orang yang merasa dirinya" pintar atau hebat" apakah mereka harus saja melakukan tindakan ekstrim atau keras seperti teror.
Pertanyaan yang pantas diajukan kepada mereka adalah apakah tindakan pemboman, penculikan pasti akan menyelesaikan kemelut di negara tercinta ini? Akankah rakyat akan menjadi kaya atau hidupnya tenang jika teroris berhasil menculik atau menyandera?
Di tengah-tengah suasana yang seharusnya menggembirakan atau membesarkan hati menyambut HUT RI maka sama sekali tidak ada salahnya jika setiap warga merenungkan kembali apa yang telah dan akan mereka lakukan untuk membesarkan negara tercinta ini. Pengalaman di banyak negara mengajarkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak bisa mendasarkan pada tindakan terorisme atau kekerasan.
Negara dan bangsa hanya bisa maju jika semua lapisan masyarakat bahu-membahu membangun dan mengembangkan negaranya dengan cara yang biasa saja dan bukannya dengan saling berlaku kekerasan atau ekstrim.
Berbagai tindakan pemberontakan di Indonesia menunjukkan bahwa semua kekerasan itu tidak bakal menyejahterakan rakyat karena akibatnya hanyalah timbul rasa kebencian, permusuhan dari sebuah kelompok terhadap kelompok masyarakat lainnya.
Karena itu, acara 17 Agustusan ini harus dijadikan momen untuk merenungkan diri oleh setiap orang Indonesia agar bisa ikut membangun bangsa dan negara ini tanpa perlu mendirikan kelompok teroris atau bergabung dengan aliran keras sehingga bisa membangun bangsa yang benar-benar hidup sejahtera, aman lahir dan batin.
Pewarta: Arnaz FirmanEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026