Dolar AS kembali bergerak menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia setelah terdepresiasi cukup dalam pada hari sebelumnya (7/9)..
Jakarta (Antara Babel) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak melemah sebesar sembilan poin menjadi Rp13.094, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp13.085 per dolar AS.

"Dolar AS kembali bergerak menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia setelah terdepresiasi cukup dalam pada hari sebelumnya (7/9). Namun, penguatan dolar AS masih relatif terbatas karena data Amerika Serikat masih pesimis," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Kamis.

Ariston Tjendra menambahkan bahwa terbatasnya penguatan dolar AS itu seiring dengan meredanya harapan bank sentral Amerika Serikat untuk menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat ini.

"Sentimen penguatan dolar AS masih rapuh menyusul ekonominya masih mencatatkan pelambatan, terutama laporan aktivitas di sektor manufaktur dan jasa, yang lebih lemah dari ekspektasi," katanya.

Sementara itu, pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova mengatakan bahwa sentimen dari dalam negeri mengenai cadangan devisa Indonesia yang meningkat akan menahan penguatan dolar AS di pasar valas domestik.

Bank Indonesia mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Agustus 2016 sebesar 113,5 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2016 sebesar 111,4 miliar dolar AS.

Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan cadangan devisa, antara lain berasal dari penerimaan pajak dan devisa migas, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, dan hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas, yang melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor : Mulki

COPYRIGHT © ANTARA 2026