Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa data neraca perdagangan Indonesia pada September mengalami surplus 1,22 miliar dolar AS yang didukung oleh ekspor komoditas, kondisi itu membuka ruang penguatan bagi rupiah.
"Surplus perdagangan yang tinggi menandakan likuiditas dolar AS yang membaik walaupun perlu diwaspadai penurunan impor bisa menjadi indikasi perlambatan PDB di kuartal ketiga," katanya.
Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (17/10) mencatat kinerja ekspor Indonesia pada September 2016 sebesar 12,51 miliar dolar AS, menurun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara, nilai impor sebesar 11,30 miliar dolar AS atau mengalami penurunan sebesar 8,78 persen dari nilai pemasukan barang dari luar negeri pada bulan sebelumnya.
Selanjutnya, ia mengatakan bahwa fokus pasar akan beralih ke hasil kebijakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pekan depan, terutama mengenai suku bunga acuan (BI 7-Day Repo Rate).
Selain itu, ia menambahkan bahwa fokus pasar juga akan tertuju ke data inflasi Amerika Serikat periode September 2016 yang sedianya akan dirilis dalam waktu dekat,data itu bisa menjadi salah satu titik konfirmasi untuk memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed.
Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia, Rully Nova menambahkan bahwa sentimen The Fed masih menjadi salah satu faktor yang menahan apresiasi nilai tukar rupiah.
"Potensi The Fed menaikan suku bunga acuannya sebelum akhir tahun ini dapat menghambat rupiah lebih tinggi," katanya.
Pewarta: Zubi MahrofiEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.