Kami sudah menerima banyak laporan dari warga nelayan di Tempilang mengenai dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas penambangan liar...
Muntok (Antara Babel) - Bupati Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Parhan Ali mengajak pejabat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di kabupaten tersebut memantau langsung aktivitas penambangan liar bijih timah di Laut Tempilang.

"Kami sudah menerima banyak laporan dari warga nelayan di Tempilang mengenai dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas penambangan liar tersebut, dengan turun langsung ke lapangan diharapkan dapat segera menghentikan polemik di wilayah itu," katanya di Muntok, Jumat.

Menurut dia, masukan yang disampaikan perwakilan nelayan dari lima desa di Kecamatan Tempilang tiga hari lalu perlu segera ditindaklanjuti dengan langkah dan kebijakan yang tepat agar situasi keamanan dan ketertiban di daerah itu tetap terjaga kondusif.

"Kami berharap permasalahan ini segera selesai agar tidak menimbulkan konflik di wilayah tersebut," katanya.

Untuk itu, dia mengajak Kapolres Bangka Barat dan Komandan Rayon Militer untuk segera berangkat meninjau lokasi yang dimaksud.

"Selain masukan dari warga nelayan Tempilang, kami juga sudah menerima masukan dari beberapa anggota Legislatif terkait adanya aktivitas tambang tersebut," kata dia.

Kapolres Bangka Barat AKBP Hendro Kusmayadi memberikan apresiasi atas langkah cepat yang akan diambil Bupati Bangka Barat terkait permasalahan tersebut.

Ia mengatakan, beberapa waktu lalu Polres Bangka Barat juga telah menerjunkan tim untuk menertibkan aktivitas penambangan tersebut. Namun para penambang berhenti beroperasi hanya sekitar dua minggu, setelah itu itu kembali beraktivitas.

"Berhentinya aktivitas penambangan di lokasi itu berdampak pada melemahnya ekonomi masyarakat, pasar jadi sepi sehingga para penambang kembali beroperasi," kata dia.

Menurut dia, apabila harus ditertibkan sebaiknya dicarikan solusi alternatif pekerjaan untuk para penambang terlebih dahulu agar kondisi ekonomi masyarakat stabil dan tentunya aktivitas penambangan liar akan berhenti dengan sendirinya.

"Kita perlu duduk bersama mencari solusi pekerjaan untuk mereka," katanya.

Pada Selasa (8/11) sebanyak 11 nelayan perwakilan lima desa di Kecamatan Tempilang, yaitu Desa Bentengkota, Tempilang, Airlintang, Sinarsurya dan Tanjungniur menghadap bupati untuk mendapatkan kepastian penghentian permanen aktivitas tambang liar bijih timah di Laut Tempilang yang selama ini merugikan nelayan.

Koordinator nelayan,, Suhaidir Kojek, pada kesempatan itu meminta Bupati memberikan solusi terbaik dengan menghentikan secara permanen aktivitas penambangan di perairan laut Tempilang agar warga bisa hidup aman dan nyaman dalam menekuni profesinya sebagai nelayan.

Aktivitas penambangan tersebut dinilai semakin mengkhawatirkan karena tidak hanya merusak kelestarian laut di perairan yang selama ini menjadi wilayah tangkap nelayan, namun dampak sosial juga cukup mengkhawatirkan, seperti meningkatnya kasus kriminalitas, peredaran narkoba, prostitusi dan kawasan pantai menjadi kumuh.


Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta
Editor : Mulki

COPYRIGHT © ANTARA 2026