Sebuah karya seni instalasi berbahan bambu berukuran cukup besar berbentuk layar ditancapkan di tengah jalan di kawasan Pantai Baturakit Muntok, lokasi pelaksanaan Pergelaran Seni Tradisional Bangka Barat 2016.

Sebanyak 10 objek berbentuk menyerupai layar kapal yang dibuat berbahan bambu solid setinggi sekitar enam meter berdiri menjulang gagah tepat di tengah jalan masuk lokasi pertunjukan.

Rangkaian indah layar kapal yang di tengahnya dihiasi ornamen garis-garis lengkung meliuk cantik dari bilahan bambu seolah ingin menyapa setiap pengunjung yang datang menyaksikan pergelaran seni tradisional Bangka Barat, Provinai Kepulauan Bangka Belitung yang baru pertama kali diselenggarakan.

Layar kapal berdiri berjejer rapi karya sejumlah pegiat seni rupa yang tergabung dalam Kelompok rindudendam selain memberikan salam sambutan kepada pengunjung, juga mengingatkan kembali bahwa daerah itu berada di kepulauan yang kaya potensi.

Seni instalasi itu seolah mengajak masyarakat mencintai, memanfaatkan laut dengan bijaksana untuk kemakmuran bersama.

"Karya ini hanya sebagai penanda atau pengingat, kita hidup di daerah kepulauan, dikelilingi laut dengan potensi berlimpah, baik biota maupun keindahan alamnya," kata personel rindudendam, Anung Nungser.

Dua panggung disediakan untuk penampilan 25 sanggar seni tradisional. Panggung Satu memanfaatkan "amphitheater" yang berdiri kokoh di sayap kanan kawasan pertunjukan.

Sebanyak 12 penjor berbahan daun nipah tinggi menjulang di sejumlah lokasi di kawasan pergelaran melambangkan kemakmuran dan bekelimpahan yang tiada henti di seluruh pelosok negeri.

"Kami sengaja membuat penjor sebanyak 12 buah sebagai ucapan syukur atas kebahagiaan dan kecukupan selama setahun terakhir," kata I Putu Asre.

Penjor simbol gunung bisa diartikan sebagai kesejahteraan dan kemakmuran, berhiaskan janur dilengkapi dedaunan dan kembang, sebagai ucapan terima kasih atas kemakmuran yang telah diberikan.

Panggung Dua, sengaja didirikan di sudut kawasan pergelaran, memanfaatkan tanah kosong mengambil latar belakang Pelabuhan Tanjungkalian Muntok berdiri sebuah panggung terbuka tinggi 50 centimeter.

Latar belakang pelabuhan dan menara suar Tanjungkalian menyatu padu dengan hiasan dekorasi panggung berbahan bambu berbentuk bunga-bunga raksasa dan batang bambu utuh yang ditancapkan tak beraturan di belakangnya.

Kawasan pertunjukan yang luasnya hampir mencapai satu hektare dihias dekorasi ratusan batang bambu dan daun nipah ditambah sentuhan sejumlah kain warna-warni menambah kemeriahan suasana arena pertunjukan.

Pemilihan materi bahan baku dekorasi berupa bambu dan daun nipah bukan tanpa alasan.

"Bambu dan nipah tumbuh liar di Tanah Bangka dan selama ini belum termanfaatkan dengan baik, kami berharap karya seni instalasi dan dekorasi ini bisa mengajak masyarakat untuk memanfaatkan tumbuhan tersebut untuk berbagai karya seni lain, syukur-syukur bisa menambah penghasilan," kata Anung.

Menurut dia, bambu dan daun nipah bisa dijadikan bahan kerajinan anyaman dan memiliki karakter unik dan jika digeluti dengan sungguh-sungguh diyakini akan menggairahkan ekonomi masyarakat.

Panas suasana di sekitar lokasi pertunjukan oleh sinar matahari siang menjelang sore tak menyurutkan semangat para seniman tradisional tampil di dua panggung yang disediakan untuk menghibur penonton atau berekspresi memuaskan diri para seniman dari berbagai kampung itu sendiri.

Grup seni Tari campak, seni dambus, rudat dan rebana silih berganti menunjukkan kebolehan mereka melestarikan budaya warisan leluhur yang sarat nilai kearifan lokal.

Alunan irama alat musik dambus, gong, gendang, tawak-tawak dan marakas mendominasi setiap penampilan pengisi acara, terkadang dilengkapi dengan biola dan akordion menambah kemeriahan suasana.

Perpaduan musik riang dipadu pakaian yang dikenakan para penari yang berwarna-warni cerah semakin menambah kemeriahan pergelaran.

Syair dan pantun yang ditembangkan induk campak mengalir memberikan petuah kepada siapa saja yang mendengar untuk berbuat lebih baik, mencintai sesama dan lingkungannya.

Hajatan yang baru kali pertama digelar semakin hidup dengan gaya para pembawa acara yang tampil cukup komunikatif memandu rangkaian kegiatan yang digelar selama dua hari tersebut.

Pergelaran Seni Tradisional yang diselenggarakan Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan dan Informatika Kabupaten Bangka Barat berhasil memberikan hiburan, semangat pelestarian sekaligus gagasan konsep baru dalam mengemas sebuah pertunjukan di Negeri Sejiran Setason.

"Kami berharap kegiatan ini bisa berlangsung minimal setahun sekali, untuk memberikan kesempatan para seniman lokal tampil di panggung yang lebih layak," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dishubparbudinfo Kabupaten Bangka Barat, Bambang Haryo Suseno.

Gagasan dan konsep baru penyajian pergelaran seni tradisonal perlu mendapatkan apresiasi seluruh pihak untuk mengangkat budaya lokal warisan leluhur yang sarat nilai kearifan.

"Jika memungkinkan, kegiatan seperti ini bisa dikembangkan di kampung-kampung dengan mengusung konsep budaya lokal yang ada, kami akan dukung kegiatan seperti itu sebagai upaya pelestarian tradisi," katanya.

Kepala Bidang Pariwisata Dishubparbudinfo Kabupaten Bangka Barat, Zanuari Anizar juga memberikan apresiasi atas keberhasilan rangkaian pertunjukan tersebut.

"Pelibatan banyak seniman perlu terus dilakukan untuk menghidupkan sebuah pertunjukan, kami berharap keberhasilan ini bisa menggenjot jumlah kunjungan pada kegiatan-kegiatan selanjutnya," katanya.

Pelaksanaan Pergelaran Seni Tradisional Bangka Barat 2016, meskipun masih ada beberapa kekurangan, namun secara keseluruhan berjalan sukses.

Pendekatan kepada sanggar seni tradisional yang dilakukan cukup baik dan para seniman dan pegiat seni tradisi dengan suka rela dan gembira tampil berekspresi di panggung tersebut.

Pemilihan lokasi di kawasan Pantai Baturakit Muntok juga berhasil mengingatkan kembali dan mendekatkan budaya masyarakat dengan potensi sumber daya alam kelautan yang selama ini belum tergarap apik.

Patut ditunggu, apakah pendekatan seni tradisional dan budaya masyarakat lokal bisa bersanding mesra dengan laut yang berkelimpahan potensi sumber daya alam, atau hanya sebatas kegiatan rutin tahunan pemerintah yang dangkal makna.

Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta
Editor : Mulki

COPYRIGHT © ANTARA 2026