Kegiatan sidak lebih ditingkatkan seiring hasil tangkapan ikan nelayan yang berkurang, karena kondisi cuaca di perairan yang tidak bersahabatPangkalpinang (Antara Babel) - Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggencarkan inspeksi mendadak (sidak) ikan mengandung formalin, sebagai antisipasi dini penjualan ikan mengandung bahan kimia yang akan mengganggu kesehatan konsumen.
"Kegiatan sidak lebih ditingkatkan seiring hasil tangkapan ikan nelayan yang berkurang, karena kondisi cuaca di perairan yang tidak bersahabat," kata Kepala DKP Kepulauan Babel, Hardi di Pangkalpinang, Selasa.
Menurut dia potensi beredarnya ikan berfomalin cukup tinggi, karena persediaan ikan yang kurang untuk memenuhi konsumsi ikan masyarakat yang tinggi.
"Saat ini harga ikan di sejumlah pasar tradisional melambung tinggi dan kondisi ini cukup dimanfaatkan oleh oknum pedagang dengan menjual ikan berfomalin untuk mendapatkan keuntungan besar," ujarnya.
Ia mengatakan hingga saat ini, pihaknya belum menemukan dan menerima laporan ikan berformalin, namun demikian sidak akan terus ditingkatkan guna melindungi konsumen dari bahan pengawet kimia itu.
"Kami akan menindak tegas dan mempidanakan pedagang yang menjual ikan berfomalin ini, karena menjual ikan mengandung zat kimia ini melanggar perundang-undangan dan mereka juga sudah mengetahui bahwa menjual ikan berformalin melanggar aturan berlaku," ujarnya.
Ia berharap masyarakat untuk waspada dan teliti sebelum membeli ikan di pasaran. Jika menemukan ikan berfomalin diharapkan melapor ke kepolisian atau Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi, kabupaten/kota," harapnya.
Kepala Seksi Pengadaan dan Penyaluran Disperindag Provinsi Kepulauan Babel, Marhoto mengatakan harga ikan di sejumlah pasar tradisional masih bertahan tinggi, karena persediaan ikan segar kurang.
"Saat ini harga ikan tenggiri bertahan Rp70.000 per kilogram, Kembung Rp45.000 per kilogram, ikan asin teri Rp65.000 per kilogram dan harga ikan lainnya yang masih tinggi dan cenderung mengalami kenaikan, karena pasokan ikan dari nelayan kurang selama kondisi cuaca di perairan memburuk," ujarnya.
Pewarta: AprionisEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.