Belitung (ANTARA) - Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Perindustrian (DPMPTSPP) Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menyatakan tren investasi hilirisasi di daerah itu mulai tumbuh.
"Pada 2024 tiga sektor teratas tren investasi di Belitung mulai ke arah hilirisasi," kata Kepala DPMPTSPP Belitung, Ronny Setiawan melalui Kepala Bidang Perencanaan, Pengembangan Iklim dan Promosi Penanaman Modal DPMPTSPP Belitung, Septi Anggraheni di Tanjungpandan, Senin.
Menurut dia, pada tahun 2024 nilai realisasi investasi di Belitung mencapai Rp1,116 triliun meningkat dibandingkan nilai realisasi investasi di Belitung pada 2024 sebesar Rp1,091 triliun.
Ia mengatakan, sektor teratas realisasi investasi di daerah itu pada 2023 adalah pertama industri makanan, kedua tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan ketiga pertambangan.
Disampaikan, sedangkan sektor teratas realisasi investasi di Belitung pada 2024 mulai bergeser ke arah pertama industri mineral non logam, kedua pertambangan, dan ketiga industri makanan.
"Jadi setelah pandemi COVID-19 tren investasi sektor pertambangan mulai naik kalau sebelum pandemi COVID-19 sektor pertambangan berada di peringkat keempat atau kelima namun setelah pandemi COVID-19 peringkatnya naik," ujarnya.
Sedangkan investasi yang akan masuk di Belitung pada tahun 2025 dan memang sudah berjalan di tahun 2024 salah satunya adalah PT. Green Indonesia Alumina (GIA).
"Sebagaimana yang sudah pernah kita dengar dan juga sudah beberapa kali melakukan pemaparan dengan Bupati Belitung dimana saat ini PT. GIA ini tahapnya baru penguasaan lahan dan mudah-mudahan di 2025 segera ada perkembangan progresnya dari penguasaan lahan menjadi pembangunan," katanya.
Septi menambahkan, saat ini terdapat juga beberapa industri hilirisasi lainnya yang mulai tumbuh di kawasan industri Suge.
Dikatakan, di dalam kawasan industri Suge juga terdapat kawasan industri yang dikelola oleh pihak swasta yakni PT. Mitra Propindo Lestari (MPL) sesuai peruntukan dalam RTRW Kabupaten Belitung.
Sesuai dengan Perda Kabupaten Belitung Nomor 3 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Belitung Tahun 2014-2034, lanjut dia, Kabupaten Belitung menetapkan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) seluas 1.414 hektare yang berada dan di Kawasan Industri Suge dengan jenis industri hilirisasi prioritas.
Ia menjelaskan, industri hilirisasi prioritas yang ditampung dalam kawasan industri tersebut adalah industri hilir berbasis timah, industri hilir berbasis tanah liat, kaolin, dan mineral lainnya, industri berbasis pengolahan ikan, industri berbasis pasir kuarsa dan silika, industri berbasis hasil laut, industri komponen yang berbasis bahan baku lokal, dan industri yang terbuka bagi penanaman modal.
"Masing-masing kelompok industri tersebut telah ditetapkan dalam zona-zona tertentu sesuai master plan kawasan industri tersebut," ujarnya.
Kemudian, kawasan industri MPL tersebut juga berfokus pada industri hilirisasi.
"Untuk sekarang sudah ada pabrik pengolahan pasir Silika, pengolahan botol plastik menjadi seng plastik, pengolahan pipa, dan sekarang satu tenant lagi berinvestasi di kawasan industri MPL adalah pabrik pengolahan kulit kerang yang mana hasil akhirnya berupa kancing baju," katanya.
Ia menambahkan, tumbuhnya industri hilirisasi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) alam tidak dikirim ke luar daerah dalam bentuk bahan mentah, melainkan menjadi produk setengah jadi bahkan produk jadi guna mendapatkan nilai tambah.
"Misalnya Belitung memiliki potensi kekayaan SDA berupa kaolin, maka seharusnya di sini (Belitung) ada investasi hilirisasi-nya berupa pabrik pembuatan cat maupun produk turunan lainnya dari kaolin," ujarnya.
