"Saat ini, stok cabai merah mencapai delapan ton dan diperkirakan akan terus bertambah seiring pasokan komoditas tersebut di daerah sentra produksi Pulau Jawa dan Sumatera lancar,"
Pangkalpinang (Antara Babel) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bangka Belitung (Babel) menyatakan bahwa stok cabai merah di tingkat distributor cukup dan harga komoditas tersebut mengalami penurunan.


"Saat ini, stok cabai merah mencapai delapan ton dan diperkirakan akan terus bertambah seiring pasokan komoditas tersebut di daerah sentra produksi Pulau Jawa dan Sumatera lancar," ujar Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Babel Husni Thambrin di Pangkalpinang, Jumat.


Ia menjelaskan berdasarkan pantauan petugas pada Kamis (12/9), sebanyak delapan ton cabai merah tersebut tersebar di distributor Awi sebanyak lima ton dan stok cabai di distributor Suhadi tiga ton.


"Saat ini, pasokan cabai ini mengalami peningkatan dibanding dengan pasokan pekan lalu hanya kisaran tiga hingga empat ton per minggu, sehingga harga cabai tersebut mengalami penurunan yang cukup drastis," ujarnya.


Ia mengatakan harga cabai merah kriting turun menjadi Rp25 ribu dari harga sebelumnya mencapai Rp35 ribu per kilogram.


Demikian juga, harga cabai rawit merah turun menjadi Rp35 ribu dari harga Rp50 ribu per kilogram dan cabai rawit hijau turun menjadi Rp30 ribu dari harga Rp40 ribu per kilogram.


"Saat ini, petani cabai di daerah asal sudah mulai panen raya sehingga pengusaha dengan mudah menambah stok dalam jumlah banyak untuk memenuhi permintaan konsumen," ujarnya.


Menurut dia, harga cabai yang turun ini belum berdampak terhadap peningkatan permintaan warga seiring daya beli warga yang masih lesu, apalagi produksi dan harga  hasil perkebunan dan tambang mengalami penurunan.

"Sampai saat ini, untuk memenuhi kebutuhan cabai warga, distributor masih mengandalkan pasokan dari luar, seiring terbatasnya hasil pertanian petani lokal," ujarnya.


Ia mengatakan minat petani untuk mengembangkan tanaman cabai dan sayur mayur lainnya masih kurang, karena mereka menilai pengelolaan tanaman tersebut sulit dan hasilnya kurang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.


"Untuk meningkatkan kesejahteraan, warga sudah terbiasa dengan cara cepat menghasilkan uang banyak, misalnya menambang bijih timah dan lainnya," ujarnya.


Pewarta: pewarta: aprionis
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026