Toboali, Bangka Selatan (ANTARA) - Pihak sekolah SD Negeri di Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengakui telah melakukan tindaklanjut atas dugaan perundungan (bullying) terhadap salah satu siswanya berinisial ZH (10 tahun) beberapa waktu lalu.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Sekolah SD Negeri di Kecamatan Toboali, Cholid dalam konferensi pers di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan, Senin (28/7).
Dalam konferensi pers yang dipimpin langsung Kadindik Anshori, Ia menjelaskan dugaan perundungan terungkap setelah orang tua dari siswa ZH memberitahukan bahwa anaknya sakit karena mendapat perundungan dari temannya.
"Pada tanggal 17 Juli 2025 ibu siswa ZH memberitahukan bahwa anaknya sakit karena mendapat perundungan yang diduga dilakukan oleh enam orang temannya," katanya.
Mendapat informasi tersebut, pihaknya langsung menindaklanjuti dengan memanggil enam orang siswa yang dimaksud apakah benar telah melakukan perundungan terhadap temannya ZH.
"Dari pengakuan enam siswa ini mereka hanya melakukan perundungan dalam bentuk verbal (ejekan) kepada temannya tersebut," ujarnya.
Kemudian, pihak sekolah langsung membuat surat pernyataan kepada enam orang siswanya yang ditandangi langsung oleh orang tuanya masing-masing untuk tidak lagi melakukan perbuatan tersebut.
"Dalam surat pernyataan yang dibuat pada tanggal 22 Juli, keenam siswa tersebut menyatakan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi dan bersedia di keluarkan dari sekolah jika masih mengulangi," ujarnya.
Setelah beberapa hari kemudian, pihak sekolah mendapat informasi bahwa siswa ZH masuk ke rumah sakit RSUD Junjung Besaoh Bangka Selatan.
Hingga kemudian meninggal dunia setelah menjalani perawatan dan tindakan operasi dari pihak rumah sakit.
"Guru wali siswa yang bersangkutan sempat komunikasi dengan ibunya setelah melihat status WhatsApp orang tuanya bahwa anaknya di rawat di rumah sakit," ujarnya.
"Kami awalnya ingin menjenguk, namun siswa tersebut sudah dioperasi. Karena tidak ingin mengganggu suasana operasi, sehingga menunda. Namun saat ingin menjenguk pada hari ini, siswa tersebut dikabarkan sudah meninggal dunia pada Minggu kemarin," ujarnya melanjutkan.
Sementara itu, Direktur RSUD Junjung Besaoh Kabupaten Bangka Selatan dr.Helen membenarkan siswa tersebut dirawat dan dilakukan operasi di RSUD Junjung Besaoh dengan diagnosa awal nyeri di perut.
"Anak ini masuk ke UGD pada Kamis siang 24 Juli dengan diagnosa awal nyeri perut karena adanya infeksi pada ususnya," ujarnya.
Kemudian anak tersebut langsung dilakukan perawatan, dan pada Jumat 25 Juli langsung dilakukan tindakan medis yakni operasi.
"Setelah dilakukan perawatan dan juga menjalani operasi, siswa tersebut dinyatakan meninggal dunia pada Minggu pagi," ujarnya.
Pewarta: RusdiyantoUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026