Koba, Babel (ANTARA) - Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Syamsul, menghadirkan momen berbeda dalam kegiatan lapak "bekisah" yang digelar relawan literasi dari Komunitas Penggerak Nalar Aksara Muda (Pena Muda) di Alun-alun Kota Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung pada Minggu (31/8/2025).
Syamsul membawa bayinya yang masih berusia beberapa bulan untuk dikenalkan pada buku sejak dini. Ia menyebutnya sebagai bentuk “syahadat literasi” bagi sang buah hati.
“Sejak kecil, bahkan sejak bayi, saya ingin mengenalkan literasi. Biar terbiasa, biar cinta buku sejak dini,” kata Syamsul ketika ditemui di sela kegiatan.
Syamsul duduk bersila di atas tikar, memangku bayinya sambil memperlihatkan buku bergambar. Meski sang bayi belum memahami isi cerita, ia percaya pengalaman pertama bersentuhan dengan buku akan memberi kesan dan membangun kedekatan emosional.
Kegiatan literasi terbuka ini diikuti puluhan anak bersama orang tua. Mereka membaca bersama di ruang terbuka, sebagian mendengarkan dongeng, sementara yang lain membuka buku cerita berwarna. Suasana hangat tercipta ketika keluarga berkumpul dengan buku di pangkuan.
Bagi Syamsul, literasi bukan hanya soal kemampuan teknis membaca, tetapi juga bekal hidup yang harus diwariskan.
"Kalau sudah terbiasa dari kecil, saya percaya nanti membaca jadi kebutuhan, bukan paksaan,” ujarnya.
Gestur sederhana seorang ayah yang mengenalkan buku pada bayinya menjadi gambaran nyata bahwa literasi dapat dimulai sejak usia paling dini.
Dari syahadat literasi seorang ayah, lahirlah benih-benih kecintaan membaca yang kelak akan tumbuh menjadi warisan berharga bagi sang buah hati.
Menurut seorang anggota Komunitas Pena Muda, Ella, kegiatan tersebut digelar untuk menghadirkan ruang baca yang menyenangkan sekaligus memperkuat peran keluarga dalam menumbuhkan minat baca anak.
“Literasi dimulai dari rumah. Saat orang tua memberi contoh, anak akan meniru. Kehadiran Pak Syamsul bersama bayinya menjadi teladan bahwa buku bisa dikenalkan bahkan sejak anak masih dalam gendongan,” ujarnya.
Ia menambahkan, peran ayah dalam kegiatan literasi sering kali kurang menonjol dibanding ibu, sehingga kehadiran figur ayah seperti Syamsul memberi warna tersendiri.
"Hal ini juga menunjukkan bahwa menanamkan minat baca adalah tanggung jawab bersama di dalam keluarga," ujarnya.
