"Stok cabai merah di gudang distributor mencapai tujuh ton dan diperkirakan akan terus bertambah seiring pasokan komoditas tersebut di daerah sentra produksi Pulau Jawa dan Sumatera lancar,"
Pangkalpinang (Antara Babel) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bangka Belitung (Babel) menyatakan stok cabai merah di tingkat distributor dan pedagang pengecer cukup dan harga komoditas tersebut bertahan stabil.


"Stok cabai merah di gudang distributor mencapai tujuh ton dan diperkirakan akan terus bertambah seiring pasokan komoditas tersebut di daerah sentra produksi Pulau Jawa dan Sumatera lancar," ujar Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Babel Husni Thambrin di Pangkalpinang, Kamis.


Ia menjelaskan berdasarkan pantauan petugas pada Rabu (25/9), sebanyak tujuh ton cabai merah tersebut tersebar di distributor Awi sebanyak lima ton dan stok cabai di distributor Suhadi dua ton.


Sementara itu, stok cabai merah di tingkat pedagang eceran diperkirakan sebanyak enam ton karena penyaluran cabai dari distributor kepada pedagang eceran lancar.


"Saat ini, pasokan cabai ini mengalami peningkatan dibanding pasokan pekan lalu hanya kisaran tiga hingga empat ton per minggu, namun belum mempengaruhi harga cabai yang masih bertahan stabil," ujarnya.


Ia mengatakan bahwa harga cabai merah kriting bertahan Rp30 ribu dari harga dua pekan lalu mencapai Rp40 ribu per kilogram.


Demikian juga, harga cabai rawit merah bertahan Rp40 ribu per kilogram dan cabai rawit hijau turun menjadi Rp34 ribu per kilogram.


"Saat ini, petani cabai di daerah asal sudah mulai panen raya sehingga pengusaha dengan mudah menambah stok dalam jumlah banyak untuk memenuhi permintaan konsumen," ujarnya.


Menurut dia, harga cabai masih bertahan karena permintaan permintaan warga yang masih kurang seiring daya beli warga yang masih lesu, apalagi produksi dan harga  hasil perkebunan dan tambang mengalami penurunan.


"Sampai saat ini, untuk memenuhi kebutuhan cabai warga, distributor masih mengandalkan pasokan dari luar, seiring terbatasnya hasil pertanian petani lokal," ujarnya.


Ia mengatakan, minat petani untuk mengembangkan tanaman cabai dan sayur mayur lainnya masih kurang, karena mereka menilai pengelolaan tanaman tersebut sulit dan hasilnya kurang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.


"Untuk meningkatkan kesejahteraan, warga sudah terbiasa dengan cara instan yang cepat menghasilkan uang banyak, misalnya menambang bijih timah dan lainnya," ujarnya. 


Pewarta: pewarta: aprionis
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026