Pangkalpinang (ANTARA) - Pemerintah Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, selama 2025 menangani 211 balita stunting, sebagai langkah pemerintah daerah menekan angka kasus stunting di ibu kota provinsi itu.
"Alhamdulillah, kasus stunting 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana Kota Pangkalpinang Agustu Afendi, di Pangkalpinang, Jumat.
Ia mengatakan berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia, jumlah kasus stunting di Kota Pangkalpinang selama 2025 sebanyak 211 balita atau 17,3 persen dan berkurang dibandingkan 2024 yang mencapai 20,7 persen dari total balita di daerah ini.
"Pada tahun ini, kita melalui berbagai program terus menekan angka kasus stunting dan kematian ibu bayi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045," katanya.
Dalam menekan angka kasus stunting, kata dia, Pemkot Pangkalpinang pada tahun ini akan mengoptimalkan berbagai program 2025 seperti Gerakan Sedekah Telur kepada ibu hamil, menyusui dan anak dari keluarga berisiko stunting.
Selain itu, pemerintah kota lebih menggencarkan Gerakan Cegah Stunting (Genting), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting, memberikan makanan tambahan bagi ibu hamil, menyusui dan anak stunting.
"Kegiatan pemberian bantuan makanan tambahan ini rutin dilakukan di seluruh puskesmas untuk menekan dan mencegah stunting," katanya.
Ia mengatakan angka kasus stunting ini mengalami penurunan, karena adanya program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada ibu hamil, menyusui, balita, dan anak-anak sekolah.
"Program MBG ini tidak hanya menyasar anak-anak sekolah tetapi juga diberikan kepada ibu hamil, menyusui, dan balita, sehingga berdampak langsung terhadap penurunan angka stunting di daerah ini," katanya.
