Pangkalpinang (ANTARA) - Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University Profesor Luky Adrianto mengingatkan pelaku usaha tambang timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) segera menerapkan sains dan teknologi, guna mewujudkan pertambangan hijau (green mining).
"Kami bertugas mengingatkan pelaku usaha untuk menerapkan sains untuk memitigasi persoalan dampak penambangan ini," kata Profesor Luky Adrianto di Pangkalpinang, Rabu.
Ia mengatakan saat ini ada istilah green mining dan blue mining yang merupakan pendekatan pertambangan berkelanjutan dalam upaya meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat pesisir di Provinsi Kepulauan Babel.
"Dengan menerapkan teknologi hemat energi, pengelolaan limbah efisien, reklamasi lahan pasca-tambang, serta penggunaan sumber energi terbarukan, tentunya akan menciptakan operasi tambang yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis dalam jangka panjang," ujarnya.
Ia mengingatkan pelaku usaha pertambangan untuk selalu menerapkan protokol lingkungan dan masyarakat pesisir untuk memelihara ekosistem pesisir dan laut di daerah ini.
"Kalau lingkungannya bagus dan ikannya juga bagus tentunya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat nelayan di daerah ini," kata Prof Luky Adrianto.
Koordinator Pengelolaan dan Pencegahan Kerusakan Kawasan Pesisir Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Adtyayuniati menegaskan pelaku usaha tambang harus menerapkan kaedah-kaedah penambangan timah dengan baik.
"Sepanjang penerapan kaedah-kaedah penambangan dan pengelolaan lingkungan yang baik, tentunya akan dapat meminimalisir dampak negatif dari tambang tersebut," katanya.
Pewarta: AprionisEditor : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026