Banda Aceh (ANTARA) - Deru eskavator memecah kesunyian Desa Manyang Cut di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Lengan besi alat berat itu mengeruk lumpur sisa banjir bandang yang sudah mengering dan memuatnya ke truk yang datang bergantian.
Mariati melihat dari jauh saat truk-truk besar itu melewati jalan di desanya yang kini sudah bisa diakses kendaraan bermotor. Debu beterbangan terbawa angin di bawah panas terik matahari di bulan Februari.
Perempuan berusia 51 tahun itu duduk di kursi kayu di depan rumahnya. Perabotan yang tersisa dari banjir bandang ditatanya dengan rapi di atas endapan lumpur yang sudah mengeras. Ada dua kursi kayu, meja rias, dan foto anak bersama menantunya yang tergantung di dinding.
"Rumah asli sudah terbenam lumpur 2,5 meter. Gak bisa dibersihkan lagi karena lumpurnya terlalu banyak di dalam," kata Mariati.
Keluarga Mariati adalah penyintas bencana Aceh yang kehilangan tempat tinggal. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), total rumah rusak akibat bencana Aceh mencapai 106.058 unit. Kerusakan rumah tersebut tersebar di 18 kabupaten dan kota, mulai dari kerusakan ringan, sedang, dan rusak berat.
Sudah lebih dua bulan berlalu sejak bencana hidrometeorologi menghantam Aceh pada akhir November 2025, tapi lumpur masih jadi masalah yang belum tuntas. Warga di daerah aliran Sungai Meureudu, Pidie Jaya, masih sulit untuk pulih karena tempat tinggal mereka bisa dikatakan masuk zona merah bencana.
Sungai Meuruedu kini makin lebar namun dangkal. Sebagian besar permukaannya sama rata dengan permukiman di daerah aliran sungai itu. Alhasil, ketika hujan turun sungai meluap lagi dan menggenangi permukiman warga.
Pantang menyerah
Setelah satu setengah bulan lamanya mengungsi di gedung serba guna Kompleks Perkantoran Pemkab Pidie Jaya, Mariati dan sang suami memilih tinggal di rumah mereka di Desa Manyang Cut. Kondisi sulit tidak menyurutkan tekad mereka untuk pulang.
Bahkan, rumah Mariati kini seakan "tumbuh" di atas rumah mereka yang terbenam lumpur sisa luapan Sungai Meureudu.
"Sekarang rumah ibu dibangun di atas loteng. Sekarang ibu tinggal di atas loteng kayak gini," katanya.
Ide kreatif itu berasal dari suaminya, Teuku Muzafar Syah, yang sudah tua dan badannya tak sanggup lagi tidur beralas tikar di pengungsian. Awalnya mereka mencoba membersihkan rumah yang penuh lumpur, tapi air masuk lagi karena lumpur di sekelilingnya masih tinggi.
"Saya dan suami juga sudah lansia, tidak kuat lagi bolak-balik dari pengungsian ke rumah untuk bersihkan lumpur. Suami bilang ke anak-anak, buatkan saja seperti rumah merpati yang penting tinggi dan bisa ditempati," katanya.
Syahdan, anak-anak mereka pulang dari perantauan dan membantu membangun ulang rumah orang tuanya. Rumah semipermanen itu pun dimodifikasi. Bangunan utama yang berkonstruksi batu bata kini berfungsi jadi pondasi. Lotengnya ditinggikan menjadi sebuah kamar dengan luas sekitar 6x4 meter, berdinding kayu dan seng, serta dilengkapi dua jendela sebagai sirkulasi udara.
Mereka membangun dengan memanfaatkan kayu-kayu dan atap seng bekas rumah lama, sehingga tidak perlu membeli material baru. Loteng rumah lama disulap jadi hunian sementara berdesain rumah panggung. Semuanya dibangun secara swadaya tanpa bantuan pemerintah.
"Rumah selesai dalam dua minggu kerja gotong royong suami dibantu anak dan saudara," katanya.
Rumah panggung itu diakses lewat tangga kayu di bagian kanan bangunan. Di dalamnya berisi keperluan hidup yang dikirim oleh anak-anak tersayangnya.
Ada kasur spring bed lengkap dengan bantal dan guling yang masih baru. Di depan kasur ada peralatan masak berupa kompor gas, dan kulkas lama yang bisa diperbaiki dan bisa menyala seminggu terakhir setelah aliran listrik PLN sudah pulih.
Atap seng kamar itu tidak terlalu tinggi hanya sekira dua meter, sehingga bisa dijangkau tangan Mariati saat ia berdiri. "Kalau siang memang panas, tapi kalau malam dingin," ujarnya.
Saat bulan suci Ramadhan yang kian dekat, Mariati bisa sedikit lega karena bisa pulang ke rumah. Meski begitu, ia tetap berharap ada bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumah-rumah warga. Rumah daruratnya itu juga masih jauh dari layak karena tidak ada toilet dan akses langsung ke air bersih.
Selain itu, selama kondisi desa itu masih dibayangi banjir susulan, ia masih belum bisa tidur dengan tenang. Trauma banjir bandang pada malam 25 November itu masih kerap menghantuinya.
"Waktu malam saya tiba-tiba suka terbangun dari tidur, masih terbayang banjir besar malam itu," ucapnya.
Rumah ibadah darurat
Cara keluarga Mariati beradaptasi dengan kondisi bencana menyadarkan sejumlah warga bahwa cara hidup mereka harus diubah untuk dapat bertahan di desa itu. Salah satunya adalah Teuku Nazarudin, yang hingga sudah lebih dari dua bulan tinggal di tenda terpal biru tak jauh dari bantaran Sungai Meureudu.
Ia mengaku tidak bisa membersihkan lumpur di rumahnya karena posisi bangunan berada di ujung lorong, terhimpit rumah tetangga dan kebun warga yang lumpurnya masih tinggi. Apabila ia nekad membersihkan lumpur di rumahnya, maka hasilnya akan sia-sia. Uang, waktu, dan tenaga terbuang, tapi rumah tetap kebanjiran.
"Apapun yang saya buat tetap tidak bisa. Satu-satunya solusinya adalah rumah saya bongkar dan ditinggikan di atas lumpur yang mengeras," kata Nazarudin, yang juga sebagai ketua posko pengungsian darurat bencana di Desa Manyang Cut.
Namun, dengan kondisi sekarang ia mengaku tidak ada daya untuk mewujudkan rencananya. Kerinduan akan rumah ia pendam dahulu. Nazarudin mencoba bersabar dan fokus pada pembangunan maunasah (mushala) darurat untuk bisa dipergunakan oleh masyarakat saat bulan suci Ramadhan.
Ia mengatakan Kementerian Agama dan Baznas mengakomodir permintaan warga agar dibangun maunasah darurat karena bangunan yang lama sulit untuk diselamatkan dari timbunan lumpur. Rumah ibadah itu dibangun langsung di atas lumpur sedalam 2,5 meter yang sudah mengeras, tepat sebelum Jembatan Meureudu di tepi jalan lintas nasional Banda Aceh - Medan.
Nazarudin menjelaskan luas maunasah darurat mencapai 14x10 meter dengan konstruksi rangka baja, lantai panggung, dan dinding semipermanen setinggi 1,2 meter.
Pembangunan rumah ibadah darurat itu sudah berlangsung selama tiga minggu, kini sudah berdiri atap dan rangka baja. Di area itu juga dibangun sumur bor dari Kementerian ESDM dan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) dari sebuah perusahaan kontruksi BUMN.
"Ini memang untuk semua orang. Kenapa saya minta dibangun di pinggir jalan nasional karena ini diperuntukkan untuk umum. Siapa saja yang bawa bantuan bisa pergunakan MCK, baik itu warga muslim dan nonmuslim," katanya.
Targetnya rumah ibadah itu sudah bisa dipakai beribadah saat bulan suci Ramadhan. Meski begitu, ia mengatakan warga sudah sempat memanfaatkan bangunan setengah jadi itu untuk beribadah malam nifsu syaban pada awal Februari lalu.
"Warga sudah sempat pakai meunasah meski belum ada lampu dan shalat di tanah. Kita baca yasin, shalat nifsu syaban, dan kenduri masak daging 30 kilogram," katanya.
Ada satu hal yang mengagumkan dari orang Indonesia, yaitu semangatnya yang pantang menyerah dalam menghadapi bencana. Terkhusus untuk orang Aceh, iman mereka kepada Allah SWT adalah fondasi bagi mereka untuk tetap bertahan dan bangkit dari masa-masa sulit.
Saat mereka sangat membutuhkan rumah untuk pulang, mereka juga sadar sangat membutuhkan rumah ibadah untuk berserah diri kepada Sang Khaliq.
"Apapun yang dikasih Allah, dari sisi baik maupun tidak baik, saya terima. Saya tidak melawan, tapi saya berusaha untuk bangkit agar Allah memberi yang terbaik," demikian Teuku Nazarudin.
Suara-suara dari penyintas bencana ini semoga didengar oleh pemerintah dan memacu mereka agar bekerja lebih keras lagi dalam mengatasi bencana Sumatera untuk sekarang dan selamanya.
Uploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026