Jakarta (ANTARA) - Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah memulai operasi tempur besar-besaran di Iran untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman langsung dari rezim Iran.

“Aktivitas mengancam mereka secara langsung membahayakan Amerika Serikat, pasukan kami, pangkalan kami di luar negeri, dan sekutu kami di seluruh dunia,” kata Trump dalam video yang diunggah ke media sosial Truth Social yang dipantau di Jakarta, Sabtu (28/2).

Sebelumnya, pada Sabtu (28/2), dilaporkan bahwa Israel telah melancarkan serangan preemptif terhadap Iran. Serangan ini merupakan serangan kedua yang dilakukan oleh Trump setelah serangan pertama ke Iran pada Juni 2025.

Menurut Trump, Operasi Midnight Hammer pada Juni lalu, AS telah menghancurkan program nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan, dan memperingatkan Iran untuk tidak melanjutkan pengembangan senjata nuklir.

Trump mengeklaim bahwa Iran berupaya membangun kembali program nuklir dan terus mengembangkan rudal jarak jauh yang dapat mengancam mitra dan sekutu di Eropa, pasukan AS yang ditempatkan di luar negeri, dan mengeklaim rudal itu dapat mencapai wilayah AS.

“Karena alasan ini, militer Amerika Serikat telah melakukan operasi besar-besaran dan berkelanjutan untuk mencegah kediktatoran radikal yang sangat jahat ini mengancam Amerika dan kepentingan keamanan nasional inti kita. Kita akan menghancurkan rudal mereka dan meluluhlantakkan industri rudal mereka,” kata Trump.

“Dan kita akan memastikan bahwa Iran tidak memperoleh senjata nuklir. Ini adalah pesan yang sangat sederhana. Mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” tambahnya.

Pada Jumat (27/2), Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al-Busaidi menyatakan perundingan nuklir AS-Iran menyepakati kebijakan tanpa penimbunan uranium yang diperkaya, dengan pengurangan stok ke tingkat terendah dan konversi menjadi bahan bakar permanen di bawah verifikasi penuh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Amerika Serikat dan Iran telah melakukan tiga putaran perundingan program nuklir tidak langsung yang dimediasi oleh Oman.

Putaran pertama dan kedua perundingan telah digelar awal bulan ini di Muscat dan Jenewa, yang berfokus pada pembatasan pengayaan dan persediaan uranium Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Sedangkan putaran ketiga dilakukan pada Kamis (26/2) di Jenewa.



Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026