Jakarta (ANTARA) - Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA menegaskan komitmennya mendorong upaya perdamaian di Timur Tengah melalui pemberitaan yang akurat dan terverifikasi, sekaligus memperkuat dorongan diplomasi internasional.
Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar di Jakarta, Rabu, mengatakan dalam situasi perang dan krisis global, media arus utama memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan informasi yang dapat mendorong penyelesaian konflik secara damai.
Menurut dia, ketika ketidakpastian meningkat akibat konflik, kantor berita seperti ANTARA harus meningkatkan intensitas pemberitaan dari dalam negeri maupun dari luar negeri, guna melawan informasi yang kurang kredibel, seperti buatan AI.
“Nah itu yang harus kita lawan. Karena dalam situasi perang, situasi krisis di mana ketidakpastian muncul, institusi media yang mainstream, institusi kayak media kita ANTARA, kantor berita, itu harus meningkatkan intensitas pemberitaannya, meningkatkan masifitas berita dari dalam dan luar,” kata Benny.
Ia menjelaskan pemberitaan tersebut juga perlu memperkuat penyampaian sikap resmi pemerintah Indonesia terhadap konflik yang terjadi.
Menurut dia, sikap tersebut seharusnya dapat dieskalasi menjadi tekanan politik yang lebih luas, tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari negara-negara lain yang memiliki prinsip serupa.
“Kenapa? Karena banyak negara dengan prinsip yang sama dengan Indonesia menentang penjajah, menentang perang yang menghancurkan kehidupan sipil dan ekonomi global,” ujarnya lagi
Benny menambahkan eskalasi pemberitaan dapat dilakukan dengan melibatkan perspektif kawasan seperti negara-negara ASEAN maupun negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Selain itu, Indonesia juga memiliki posisi strategis sebagai ketua D-8 yang dapat memperkuat suara kolektif negara-negara berkembang.
Melalui pendekatan tersebut, kata dia, pemberitaan diharapkan dapat memperluas tekanan politik internasional sehingga mendorong pihak-pihak yang berkonflik untuk kembali ke jalur diplomasi.
“Karena kita tujuannya adalah membawa ke meja perundingan. Meja perundingan itu akan dimanfaatkan. Ada keraguan tapi itu harus kita coba tembus dengan sebuah tawaran, dan saya yakin Bapak Presiden itu punya tawaran,” katanya.
Selain memperkuat pemberitaan, ANTARA juga berkomitmen menjaga kualitas informasi dengan sistem verifikasi yang ketat untuk memastikan berita yang disampaikan tetap akurat dan tidak memperkeruh situasi.
“Karena kita kan juga punya alat verifikasinya. Jadi kita ada berita yang kayak apa, ya kita akan jelaskan dari kepentingan Indonesia, kepentingan negara-negara sahabat juga,” ujar Benny.
Ia menambahkan, ANTARA juga menempatkan reporter di Arab Saudi untuk memantau secara langsung perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah.
Namun, menurut dia, penugasan itu memiliki risiko tinggi mengingat kawasan tersebut berada dalam situasi konflik.
“Kita menaruh reporter kita di Saudi untuk memantau langsung perkembangan apa yang ada di Timur Tengah, tapi dalam status yang cukup riskan, karena Saudi juga dalam situasi perang. Tapi itulah risiko jadi wartawan, membangun trust, membangun kapasitas kantor berita kita sendiri,” kata Benny.
Seperti diketahui, AS dan Israel melakukan serangkaian serangan terhadap target di dalam Iran, termasuk di Teheran, dengan laporan kerusakan dan korban sipil.
Iran menanggapi dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai tindakan pembelaan diri.
Iran telah melancarkan gelombang serangan ke-sembilan terhadap Israel dan target-target Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, menurut pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Minggu (1/3).
"Gelombang kesembilan Operasi True Promise 4 telah dimulai terhadap target-target di seluruh wilayah pendudukan dan target-target AS di Timur Tengah," kata IRGC, seperti dikutip stasiun televisi IRIB.
IRGC menyatakan angkatan udara Iran telah menghancurkan sistem pertahanan rudal THAAD dalam serangan di Al Dhannah, Uni Emirat Arab.
Imbas konflik ini, sekitar 200 kapal tanker terjebak di pintu masuk Selat Hormuz di Teluk Oman pada Selasa (3/3), menambah jumlah total kapal yang terjebak jadi 300 kendaraan, menurut data MarineTraffic yang dianalisis RIA Novosti.
Saat ini tidak ada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis pantai utara Selat Hormuz merupakan milik Iran, sedangkan kepemilikan pantai selatan dibagi antara Uni Emirat Arab dan Oman.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan Presiden Prabowo Subianto siap menjadi mediator apabila Iran dan Amerika Serikat berkeinginan untuk membuka ruang mediasi.
"Jika kedua belah pihak berkeinginan (mediasi), ya kita, Pak Presiden bersedia untuk menjadi mediator. Tetapi kalau misalnya ada pandangan seperti itu (kemungkinan tidak ada negosiasi lanjutan), ya kita kembalikan kepada mereka," ujar Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3).
Pernyataan itu disampaikan Sugiono menanggapi perkembangan sikap Iran terkait kemungkinan tidak adanya negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar FauzanUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026