New York City (ANTARA) - American Automobile Association (AAA) menyebutkan bahwa rata-rata harga nasional Amerika Serikat (AS) untuk 1 galon bensin reguler melonjak hampir 27 sen sejak pekan lalu menjadi 3,25 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.886) per galon pada Kamis (5/3).
"Kali terakhir rata-rata nasional mencatat lonjakan mingguan serupa adalah pada Maret 2022, saat awal konflik Rusia-Ukraina," menurut pernyataan tersebut.
Menurut AAA, kenaikan terbaru itu membuat rata-rata nasional berada pada tingkat harga yang sama seperti pada awal April 2025.
Musim semi biasanya ditandai dengan kenaikan harga bensin karena permintaan meningkat dan produksi bensin campuran musim panas (summer-blend gasoline) dimulai.
Kontrak berjangka minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April melonjak 8,51 persen dan ditutup di atas 81 dolar AS per barel pada Kamis, mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.
Harga minyak melonjak secara signifikan setelah serangan militer yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran memicu Iran untuk secara efektif menutup Selat Hormuz, koridor yang biasanya memfasilitasi sekitar 25 persen perdagangan minyak global yang diangkut melalui laut.
Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak mentah ke angka 100 dolar AS per barel, dan harga minyak yang tetap tinggi akan memicu kenaikan inflasi indeks harga konsumen (IHK) utama serta tekanan kredit akibat perlambatan ekonomi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak, menurut catatan riset perusahaan manajemen aset dan perbankan investasi AS, Stifel, pada Selasa (3/3).
Pewarta: XinhuaUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026