Moskow (ANTARA) - Puluhan perusahaan Jerman tetap mempertahankan keberadaan mereka di Iran meskipun situasi kondisi geopolitik sedang sulit dan ada pemberlakuan sanksi, demikian lapor surat kabar Die Welt.
Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di bidang kimia, farmasi, dan barang-barang rumah tangga.
Di antara perusahaan Jerman yang masih berada di Iran adalah raksasa kimia Henkel, yang memiliki merek Persil, Pril, dan Schauma.
Kontribusi anak perusahaan Henkel di Iran terhadap total keuntungan grup pada tahun 2024 sebesar 37 juta euro (43 juta dolar AS dengan kurs saat ini), kata laporan itu.
Menurut Kantor Statistik Federal Jerman (Destatis), Iran telah turun peringkat dalam daftar mitra dagang Jerman dari peringkat ke-60 pada tahun 2019 menjadi peringkat ke-72 pada tahun 2025.
Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika di Timur Tengah.
Amerika dan Israel awalnya mengklaim serangan mereka itu diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, mereka segera memperjelas bahwa serangan itu dilakukan karena mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei itu sebagai tindak pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia mengutuk operasi AS-Israel itu dan menyerukan segera dilakukan deeskalasi dan penghentian permusuhan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Pewarta: Fransiska NindityaUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026