Jakarta (ANTARA) - Pemerintah China menyatakan diplomasi antar-kepala negara masih tak tergantikan dalam hubungan China dan Amerika Serikat meskipun rencana kedatangan Presiden AS Donald Trump untuk bertemu Presiden China Xi Jinping harus ditunda dan dijadwalkan pada 14-15 Mei mendatang.

"Diplomasi kepala negara memainkan peran yang tak tergantikan dalam memberikan panduan strategis untuk hubungan China-AS. Kedua negara sedang berkomunikasi mengenai kunjungan Presiden Trump ke China," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (26/3).

Gedung Putih sebelumnya mengumumkan bahwa Presiden Donald Trump akan mengadakan pertemuan yang "telah lama ditunggu-tunggu" dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026.

Tak lama setelah pengumuman tersebut, Trump mengonfirmasi di media sosial bahwa dia akan bertemu dengan Xi Jinping selama dua hari.

"Perwakilan kami sedang menyelesaikan persiapan untuk kunjungan bersejarah ini. Saya sangat menantikan untuk menghabiskan waktu bersama Presiden Xi dalam apa yang saya yakin akan menjadi peristiwa yang monumental," tulis Trump.

Awalnya, agenda Trump ke China dijadwalkan pada 31 Maret-2 April 2026. Namun, kunjungan itu ditunda karena keinginan Trump untuk tetap berada di Amerika dan fokus pada perang yang baru saja dimulai dengan Iran.

Kunjungan Trump ke China itu nantinya akan menjadi yang pertama sejak ia kembali menjabat pada Januari 2025.

Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Presiden Donald Trump dan istrinya, Melania, akan menjamu Presiden Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, dalam kunjungan balasan di Washington pada tanggal yang akan diumumkan di tahun ini.

Ketika ditanya apakah pemerintahan Trump memperkirakan perang yang dilancarkan Amerika dan Israel kepada Iran pada 28 Februari lalu akan berakhir pada pertengahan Mei, Leavitt mengatakan pihaknya selalu memperkirakan operasi militer itu akan selesai sekitar empat hingga enam minggu.

"Jadi, Anda bisa menghitungnya. Saya tahu Presiden (Donald Trump) berharap dapat pergi ke China pada 14 dan 15 Mei," ujar Leavitt.

Sejak menyetujui gencatan satu tahun dengan Xi Jinping dalam perang dagang Amerika dan China pada Oktober 2025, Trump telah menyatakan bahwa keduanya telah membuat kemajuan di bidang ekonomi dan menempatkan hubungan mereka pada pijakan yang lebih stabil.

Topik utama yang akan dibahas pada pertemuan puncak itu antara lain termasuk soal perdagangan dan Taiwan, serta pembelian tambahan produk pertanian Amerika oleh China, yang ingin "diamankan" Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.



Pewarta: Desca Lidya Natalia
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026