New York (ANTARA) - Harga minyak mentah berjangka naik tajam pada Senin waktu Indonesia atau Minggu (19/4) malam waktu New York, AS, seiring meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dan putaran kedua perundingan perdamaian Amerika Serikat (AS)-Iran yang tidak menunjukkan kemajuan.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei mencapai 91,2 dolar AS (1 dolar AS = Rp17.189) per barel pada awal perdagangan atau naik 8,76 persen dari harga penutupan pada Jumat (17/4). Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni mencapai titik tertinggi 97,5 dolar AS per barel, naik dari harga penutupan sesi sebelumnya sebesar 90,38 dolar AS per barel.

Tiga puluh lima kapal yang hendak berlayar keluar berbalik arah dalam 36 jam terakhir setelah Iran memberlakukan kembali kontrol atas Selat Hormuz, menurut sebuah perusahaan analisis maritim yang berbasis di London pada Minggu.

Pada Sabtu (18/4) malam, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz telah diblokir. Pengumuman ini menyusul deklarasi pemerintah Iran pada Jumat bahwa selat tersebut akan dibuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata Lebanon-Israel.

Selain itu, kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Minggu mengatakan bahwa negara itu menolak berpartisipasi dalam putaran kedua perundingan perdamaian dengan AS.

Situasi yang kembali tegang juga menyebabkan indeks saham berjangka AS anjlok pada Minggu malam, dengan harga logam mulia berjangka turun secara signifikan.

Optimisme terkait dimulainya kembali arus perdagangan di Selat Hormuz menyebabkan penurunan lebih dari 11 persen pada harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei, sementara S&P 500 Index dan Nasdaq Composite Index mencatatkan rekor tertinggi baru pada Jumat.

Selat Hormuz, koridor pelayaran vital yang menyumbang sekitar 20 persen dari aliran minyak global, secara efektif ditutup untuk transit kapal tanker minyak sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari.



Pewarta: Xinhua
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026