"Harga cabai merah turun menjadi Rp44 ribu dari sebelumnya Rp46 ribu per kilogram,"
Pangkalpinang (Antara Babel) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bangka Belitung (Babel), menyatakan, harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional turun karena pasokan dan stok komoditas tersebut lancar.  

"Harga cabai merah turun menjadi Rp44 ribu dari sebelumnya Rp46 ribu per kilogram," kata Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Babel, Husni Thambrin di Pangkalpinang, Rabu.

Harga cabai rawit hijau turun menjadi Rp44 ribu dari harga sebelumnya Rp46 ribu per kilogram, cabai rawit merah turun Rp40 ribu dari harga sebelumnya Rp48 ribu per kilogram.

"Harga cabai ini turun juga karena permintaan warga yang mengalami penurunan, seiring daya beli warga yang kembali melemah pasca Hari Raya Idul Adha," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini, stok cabai merah sebanyak lima ton dan diperkirakan akan terus bertambah seiring pasokan komoditas tersebut di daerah sentra produksi Pulau Jawa dan Sumatera lancar.

Berdasarkan pantauan petugas pada Rabu (22/10), sebanyak lima ton cabai merah tersebut tersebar di distributor Awi sebanyak tiga ton dan stok cabai di distributor Suhadi dua ton.

"Saat ini, pasokan cabai ini mengalami peningkatan dibanding dengan pasokan pekan lalu hanya kisaran tiga hingga empat ton per minggu, sehingga harga cabai tersebut mengalami penurunan yang cukup drastis," ujarnya.

Menurut dia, penurunan harga cabai yang turun ini belum berdampak terhadap peningkatan permintaan warga seiring daya beli warga yang masih lesu, apalagi pasca lebaran Idul Adha ini dan harga hasil perkebunan dan tambang mengalami penurunan.

"Sampai saat ini, ketetapan harga cabai ini masih berdasarkan hukum pasar, apabila permintaan meningkat maka harga akan naik, demikian juga sebaliknya permintaan menurun dan stok cukup maka harga akan turun," ujarnya.

Ia mengatakan, harga cabai masih berdasarkan hukum pasar ini juga karena sekitar 90 persen untuk memenuhi kebutuhan cabai warga, distributor masih mengandalkan pasokan dari luar, seiring terbatasnya hasil pertanian petani lokal," ujarnya.

Pewarta: Pewarta :Aprionis
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026