Muntok, (ANTARA Babel) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung mengusulkan agar pusat melalui APBN 2013 mengalokasikan dana untuk pengembangan ternak sapi Rp15 miliar, terkait upaya mewujudkan swasembada daging.

"Secara teknis kami sudah siap jika usulan tersebut direalisasikan, seiring meningkatnya animo masyarakat memelihara ternak dan ketersediaan lahan pakan ternak yang cukup melimpah di daerah itu," ujar Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat Gunawan di Muntok, Senin.

Ia menjelaskan, jika usulan tersebut disetujui pemerintah pusat, pihaknya siap menggandeng perkebunan sawit di daerah itu untuk menyediakan lahannya sebagai lokasi pengembangan ternak dengan pola integrasi sapi-sawit.

"Dari anggaran Rp1,5 miliar tersebut bisa mendatangkan sapi seribu ekor lebih, untuk kelompok pengelola sudah kami siapkan dan perusahaan perkebunan juga sudah kami hubungi, tinggal penandatanganan nota kesepahaman saja yang belum karena masih menunggu realisasi usulan tersebut," katanya.

Menurut dia, daerahitu memiliki potensi bagus untuk mengembangkan ternak sapi seiring luasnya lahan yang cukup potensial dengan pola integrasi sapi-sawit, sapi-karet, sapi-lada atau pun sapi-sawah.

"Untuk potensi lahan tidak mengalami kendala, karena satu sapi hanya butuh makanan berupa rumput satu hektare per tahun, padahal potensi lahan pertanian dan perkebunan sekitar 90 ribu hektare lebih," kata dia.

Menurut dia, untuk memaksimalkan potensi tersebut yang sedikit menjadi kendala adalah kesiapan warga yang secara tradisi belum terbiasa dengan beternak sapi.

Untuk mengantisipasi hal itu, kata dia, pengembangan sapi bali sangat cocok karena sapi tersebut mudah beradaptasi dengan lintgkungan baru dan cara perawatan dengan pola penggembalaan juga cocok dengan karakter masyarakat.

"Sapi bali mudah penggembalaannya, asalkan kepala kelompok diikat, anggota kawanan tidak pergi jauh darinya, itu cocok dengan luasnya areal perkebunan yang sebagian besar tidak berpagar," kata dia.

Pola integrasi sapi sawit ini meliki berbagai keuntungan baik dari kelompok tani, perusahaan maupun pemerintah.

"Bagi kelompok tani keuntungannya tidak perlu menyediakan lahan khusus untuk menggembala ternak, cukup menyediakan kandang untuk berteduh sapi di malam hari, sementara bagi perusahaan bisa mendapatkan pupuk dari kotoran sapi gratis,

selain itu, pengendalian gulma pengganggu tanaman induk juga dapat diantisipasi karena dimakan sapi dan dari sisi keamanan perkebunan juga lebih terjaga dan minim konflik pola tersebut merupakan salah satu komitmen perusahaan peduli lingkungan," kata dia.

Sementara bagi pemerintah, pola tersebut akan sangat membantu dalam upaya percepatan populasi sapi dalam upaya mewujudkan program swasembada daging.    

Ia mengatakan, populasi sapi di daerah itu saat ini mencapai 1.100 ekor lebih atau meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sekitar 450 ekor, peningkatan ini seiring tingginya animo masyarakat mengembangkan ternak tersebut.


: Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026