"Penurunan NTP tanaman pangan ini karena harga yang diterima petani lebih kecil dibanding indeks indeks harga yang dibayar petani di daerah itu," ujar Kepala BPS Babel, Herum Fajarwati di Pangkalpinang, Rabu.
Ia menjelaskan, pada Desember 2013 harga yang diterima petani (IT) tidak mengalami perubahan, sementara harga yang dibayar petani (IB) naik 0,07 persen karena naiknya konsumsi rumah tangga (KRT) sebesar 0,03 persen dari 108,68 menjadi 108,71.
Demikian juga, Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) naik 0,32 persen dari 104,27 menjadi 104,60.
Sementara itu, kata dia, NTP hortikultura pada Desember 2013 mengalami kenaikkan indeks yaitu dari 97,97 menjadi 98,24.
"Kenaikkan hortikultura sebesar 0,27 persen tersebut karena naiknya IT 0,54 persen lebih besar dibanding naiknya IB 0,27 persen," ujarnya.
Ia mengatakan, kenaikkan IT ini karena indeks pada subkelompok sayur mayur naik 1,32 persen yang dipicu naiknya kangkung dan bayam.
Sedangkan kenaikkan pada IB karena naiknya konsumsi rumah tangga (KRT) sebesar 0,25 persen dari 108,08 menjadi 108,35 dan Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) naik 0,33 persen dari 104,90 menjadi 105,25.
Demikian juga, NTP tanaman perkebunan rakyat naik 3,06 persen dari 100,63 menjadi 103,70 karena naiknya IT 3,22 persen lebih besar dibanding naiknya IB 0,16 persen.
"Kenaikkan IT ini karena indesk pada subkelompok tanaman perkebunan rakyat naik 3,22 persen yang dipicu naiknya lada putih dan karet.
Sedangkan kenaikkan pada IB karena naiknya konsumsi rumah tangga (KRT) sebesar 0,12 persen dari 108,91 menjadi 109,04 dan Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) naik 0,37 persen dari 104,02 menjadi 104,41," ujarnya.
Pewarta: Pewarta : AprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.