"Selama ini, pembangunan perikanan tangkap kurang optimal karena masih kurangnya kepedulian swasta memberdayakan nelayan tradisional," katanya saat serah terima kapal bantuan 30 GT dari Kementerian Kelautan dan Perikanan di Pangkalpinang, Kamis.
Ia menjelaskan, berdasarkan data 2013, jumlah nelayan tradisional di Bangka Belitung sebanyak 40.454 nelayan, 17.332 unit kapal yang didominasi kapal berukuran 5 GT sebanyak 10.900 unit.
"Kami berharap pihak swasta berpatisipasi meningkatkan sumber daya manusia nelayan, misalnya memberikan pinjaman modal lunak untuk pembelian kapal berukuran di atas 10 GT sehingga dapat melaut lebih jauh," ujarnya.
Selain itu, membangun pabrik balok es untuk kebutuhan nelayan untuk meningkatkan kualitas ikan hasil tangkapan ikan nelayan, atau memaksimalkan produksi pabrik balok es yang dibangun pemerintah daerah.
"Saat ini, stok es balok nelayan masih kurang untuk memenuhi kebutuhan nelayan untuk meningkatkan kualitas dan hasil tangkap ikan nelayan," ujarnya.
Menurut dia, dengan adanya peran pihak swasta ini maka akan memudahkan pemerintah daerah untuk membuka peluang pekerjaan, menekan angka kemiskinan dan meningkatkan pengelolaan sumber daya perikanan yang memiliki potensi tinggi.
"Saat ini, pengelolaan sumber daya perikanan belum maksimal karena keterbatasan sumebr daya manusia nelayan, sarana dan prasana penangkapan ikan dan lainnya," ujarnya.
Ia mengatakan, Bangka Belitung merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil seperti Pulau Lepar, Pongok, Mendanau dan Selat Nasik, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau.
"Untuk mengelola potensi kelautan ini dibutuhkan kerjasama yang baik antara pemerintah daerah, swasta dan masyarakat, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang miskin di daerah laskar pelangi ini," ujarnya.
Pewarta: Pewarta: AprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.