"Saat ini, nelayan tradisional yang memiliki kapal berukuran kecil untuk sementara tidak melaut, karena kondisi cuaca membahayakan keselamatan nelayan," ujar Kepala DKP Bangka Selatan, Budi Setyo di Toboali, Senin.
Ia menjelaskan, pada Desember 2013 hingga pertengahan 2014, cuaca di perairan Bangka Selatan memburuk yang ditandai gelombang tinggi, angin kencang, hujan, petir dan lainnya yang membahayakan keselamatan nelayan selama mencari ikan di tengah laut.
"Saat ini, tinggi gelombang sudah mencapai dua meter sehingga sebagian nelayan tradisional yang memiliki kapal berkapasitas satu hingga lima grosston tidak melaut karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat," ujarnya.
Menurut dia, kapal-kapal nelayan berukuran kecil ini rawan terjadi kecelakaan karena dihantam gelombang tinggi dan angin kencang.
"Sampai saat ini, kami belum menerima laporan kecelakaan kapal nelayan, karena nelayan sudah tahu langkah apa yang dilakukan apabila cuaca di laut memburuk," ujarnya.
Ia mengatakan, jumlah kapal nelayan di Kabupaten Bangka Selatan mencapai 2.575 unit kapal yang tersebar di Kecamatan Toboali, Lepar Pongok, Tukak Sadai, Pulau Besar, Simpang Rimba, sementara penduduk di dua Kecamatan Payung dan Air Gegas tidak ada yang berprofesi nelayan.
Dari 2.575 unit kapal nelayan tersebut, jumlah perahu tanpa motor sebanyak 420 unit, perahu motor tempel sebanyak 151 unit, kapal nelayan berkapasitas 5 GT hingga 10 GT sebanyak 1.891 unit, kapal berkapasitas 10 hingga 20 GT sebanyak 15 unit.
"Bagi nelayan yang tidak melaut, untuk sementara mencari pekerjaan sampingan untuk menafkahi keluarganya seperti menangkap ikan di tepi pantai, menambang timah, menjadi kuli bangunan, berdagang dan lainnya," ujarnya.
Ia mengatakan, untuk tahun ini, kami tidak menyalurkan bantuan sembilan bahan pokok (Sembako) kepada nelayan yang tidak melaut, karena mereka sudah mendapatkan jatah beras miskin (raskin) dari Bulog sebanyak 15 kilogram per bulan.
"Dengan adanya raskin gratis tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan nelayan selama musim cuaca buruk ini," ujarnya.
Pewarta: Pewarta: AprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.