Pengamat pasar uang dari Bank Woori Saudara Indonesia, Rully Nova di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa nilai tukar rupiah menguat seiring dengan pelaku pasar yang mulai melepas dolar AS untuk ambil untung.
"Pelaku pasar uang cukup realistis, mereka melakukan aksi ambil untung setelah pada hari sebelumnya (13/8) dolar AS terapresiasi cukup tinggi," ujarnya.
Menurut dia, sentimen eksternal mengenai krisis keuangan di Turki masih akan membayangi pergerakan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Namun, sentimen terkait Turki diperkirakan bersifat sementara.
"Sebenarnya, kondisi ekonomi Turki dan Indonesia berbeda. Data-data ekonomi Indonesia masih lebih baik sehingga tekanan rupiah diproyeksikan hanya temporer," katanya.
Ia menambahkan bahwa defisit neraca transaksi berjalan indonesia pada triwulan kedua yang meningkat juga diyakini akan membaik ke depannya.
"Tren ekonomi nasional sedang tumbuh, seiring jalannya waktu mata uang dan data ekonomi kita akan membaik," katanya.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini (14/8), tercatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp14.625 dibanding sebelumnya (13/8) di posisi Rp14.583 per dolar AS.
Pewarta: Zubi MahrofiUploader : Adhitya SM
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.