"Dalam ilmu semiotika, angka itu adalah sebuah tanda yang menunjukkan sesuatu, sekarang kalau di politik, angka itu harus menciptakan makna, tim kampanye harus kreatif dalam memaknai nomor urut yang akan didapat," kata pakar semiotika, Doktor Acep Iwan Saidi ketika diwawancarai Antara di Jakarta, Jumat.
Antara menanyakan masalah nomor urut kepada Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada hari Jumat malam di Jakarta akan menentukan nomor urut capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Acep menambahkan kedua pasangan capres-cawapres ini sekarang sedang menunjukkan identitasnya melalui simbol-simbol, seperti pakaian yang digunakan capres Jokowi terdapat gambar yang menarik perhatian kaum muda atau milenial . Sementara itu untuk mengimbangi Jokowi-Ma'ruf, maka kubu capres Prabowo menonjolkan Sandiaga Uno sebagai tokoh kaum muda.
Sementara itu ketika diminta membandingkan kampanye tahun 2018-2019 dengan lima tahun lalu, Acep menjelaskan bahwa tahun ini yang membedakan adalah masing-masing simbol dari kedua kubu dilihat dari usia. Kubu Jokowi-Ma'ruf Amin identik dengan pasangan kelompok yang lebih tua. sedangkan kubu Prabowo-Sandiaga Uno mencerminkan sisi kelompok yang lebih muda.
Pada kesempatan itu Acep mengharapkan tidak akan terjadinya gesekan diantara massa kedua kelompok tersebut. Tapi perlu diwaspadai kemungkinan munculnya kelompok tertentu yang ingin berusaha mencoba mencari keuntungan dari perbedaan kedua kelompok.
Pewarta: Arnaz/Yozzi/AlifUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.