....jika Rusia tidak melakukan tindakan-tindakan untuk meredakan ketegangan di Ukraina timur dan menarik pasukan dari perbatasan Ukraina, akan ada konsekuensi-konsekuensi tambahan,"Washington, (Antara Babel) - Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden akan mengunjungi Ukraina bulan ini, kata para pejabat Sabtu, sementara Washington memperingatkan Moskow akan "konsekuensi tambahan" jika Rusia gagal meredakan ketegangan dengan Ukraina.
Pengumuman itu datang hanya sehari setelah Washington mengenakan sanksi-sanksi terhadap enam pemimpin Kremia, termasuk pejabat yang menandatangani perjanjian dengan Moskow untuk melepaskan diri semenanjung itu dari Ukraina.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Menlu AS John Kerry "menegaskan bahwa jika Rusia tidak melakukan tindakan-tindakan untuk meredakan ketegangan di Ukraina timur dan menarik pasukan dari perbatasan Ukraina, akan ada konsekuensi-konsekuensi tambahan," kata pejabat senior Departemen Luar Negeri.
Washington berulang-ulang mendesak Moskow meredakan ketegangan dan menarik pasukan dari perbatasan timur Ukraina dalam konflik Barat-Timur terburuk sejak Perang Dingin.
Gelombang pertama dari sanksi-sanksi AS diumumkan Maret dengan memasukkan dalam daftar hitam para pejabat dan pengusaha yang dekat dengan Presiden Vladimir Putin untuk memrotes pengambil alihan Krimea oleh Moskow.
Pejabat senior itu mengatakan Kerry menyatakan "sangat cemas" atas serangan-serangan kelompok garis keras bersenjata belum lama ini di Ukraina timur "direkayasa dan disinkronisasi, sama dengan serangan-serangan sebelumnya di Ukraina Timur dan Krimea."
Para pria yang membawa senapan-senapan Kalashnikov merebut dua kantor keamanan di daerah timur di tengah-tengah protes luas menuntut daerah yang berpenduduk mayoritas etnik Rusia itu bergabung dengan pemerintah Kremlin.
Para anggota kelompok garis keras itu dilengkapi dengan senjata Rusia dan mengenakan seragam yang sama dengan pasukan Rusia yang menduduki semenanjung Krimea, kata pejabat itu.
Gedung Putih mengecam "kampanye menghasut yang direkayasa dan sabotase" itu dengan mengatakan itu akan menjadi agenda dalam perundingan Biden di Kiev, 22 April.
Wakil presiden itu akan membicarakan perkembangan-perkembangan terbaru di Ukraina timur, di mana kelompok separatis pro-Rusia, nampaknya dengan dukungan Moskow, terus melakukan kampanye menghasut dan sabotase untuk mengacaukan negara Ukraina, katanya.
Kunjungan Biden ke Kiev juga akan membicarakan usaha-usaha masyarakat internasional untuk membantu menstabilkan dan memperkuat ekonomi Ukraina menjelang pemilihan presiden pada 25 Mei, kata Gedung Putih.
Ia juga akan membicarakan reformasi konstitusional, desentralisasi, usaha-usaha anti-korupsi dan keamanan energi.
Moskow menggelar puluhan ribu tentara di perbatasan timur Ukraina setelah menganeksasi Semenanjung Krimea dan meningkatkan dua kali lipat harga gas alam yang dipasok Kiev.
Dalam pertemuannya dengan para pemimpin pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat sipil, Biden akan "menekankan dukungan kuat AS bagi Ukraina yang bersatu, demokratik dan melakukan pilihannya sendiri tentang jalan masa depannya," kata satu pernyataan Gedung Putih.
"Wakil presiden juga akan bertemu dengan berbagai kelompok rakyat Ukraina untuk mendengar aspirasi-aspirasi mereka dan memperkuat kemitraan antara Amerika Serikat dan Ukraina."
Editor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.