Jakarta (Antara Babel) -  Pemilihan Presiden RI sebentar lagi digelar, namun nuansa yang terbentuk seolah negeri berpenduduk 240 juta ini kekurangan sumber daya kepemimpinan nasional.

Nama kandidat presiden yang mencuat sudah bisa ditebak. Joko Widodo atau Jokowi dicalonkan PDIP selaku pemenang pemilihan umum anggota legislatif yang penuh dengan catatan penyimpangan. Kandidat lain, Prabowo Subianto yang diajukan Gerindra, partai menengah yang meroket dalam Pemilu Legislatif.

Calon lain agak gamang, yakni Aburizal Bakrie alias Ical  yang akhirnya memilih berkoalisi dengan PDIP, karena Golkar tak begitu yakin dengan elektabilitasnya. Kandidat keempat bisa menjadi kuda hitam, yakni Dahlan Iskan, bila Partai Demokrat mau dan mampu menggalang poros baru.

Rakyat menyimak dinamika politik nasional dengan perasaan apatis, karena masih banyak persoalan ekonomi dan sosial belum terpecahkan. Angka golput yang cukup tinggi (25 persen) dalam Pileg memperlihatkan gejala mencemaskan itu. Walaupun sebagian warga kelas menengah menyadari, Presiden RI yang terpilih nanti akan menentukan wajah Indonesia, sekurangnya untuk periode lima tahun ke depan (2014-2019).

Sebenarnya di luar kepemimpinan politik formal masih banyak sosok lain yang memiliki pengaruh luas, namun jarang disorot publik. Mereka tak punya waktu dan dana besar untuk berkampanye.

Sebut saja, Tokoh Perubahan yang baru ditetapkan koran Republika: dokter muda sekaligus pendiri Klinik Asuransi Sampah Gamal Albinsaid, aktor pencak silat Iko Uwais, pelatih Tim Nasional U-19 Indra Sjafri, pendiri Klinik Pendidikan MIPA Ridwan Hasan Saputra, dan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad.

Selain itu, ada pula Dr. Warsito P. Taruno, penerima anugerah Hak Kekayaan Intelektual dari Kemenhukham tahun 2014. Warsito mengembangkan teknologi kapasitansi listrik berbasis medan listrik untuk diagnosis dan terapi kanker. Ada banyak lagi figur berpengaruh nyata di luar sektor politik dan mereka menunjukkan karya orisinal: tanpa polesan pencitraan dan bukan plagiat/tiruan sosok lain.

Pemimpin Otentik, itulah yang kita cari: yang benar-benar dibutuhkan bangsa Indonesia kini. W.L. Gardner dkk (2011) mengungkapkan sebuah organisasi (termasuk institusi negara) mencerminkan secara otentik kepemimpinan yang mengendalikannya.

Seluruh organisasi (termasuk rakyat dalam suatu negara) dapat bertindak seperti seorang manusia (pemimpin) melalui tanggung jawab, respon atas ketidakpastian, dan kreativitas. Pemimpin otentik secara aktual mendefinisikan perannya dalam sebuah organisasi.

Saat ini rakyat menyambut kehadiran Jokowi karena merindukan "pemimpin yang sederhana dan jujur": berbicara apa adanya, bertindak spontan meski penuh perhitungan. Dulu, kita mengenal sosok Jenderal M. Yusuf (mantan Panglima ABRI), Jenderal Hoegeng (mantan Kapolri) atau Prof. Baharuddin Lopa (mantan Jaksa Agung); yang hidup, berkarya, berjuang dan meninggal dalam kharisma istiqamah.

Apakah Jokowi bisa melalui rute politik yang berliku dengan kualitas serupa? Jika berhasil, Jokowi memang dibutuhkan bangsa ini untuk melakukan perubahan mendasar. Jika gagal, Jokowi mungkin hanya korban mesin pencitraan yang dikontrol pemilik modal besar.

Demikian pula, Prabowo dikagumi publik karena kebutuhan akan hadirnya "figur yang tegas dan berjiwa nasionalisme tinggi". Sayangnya, di Indonesia sosok semacam itu diidentikkan dengan figur militer berpangkat jenderal. Padahal, banyak tokoh sipil yang memiliki ketegasan melebihi figur militer, seperti Baharuddin Lopa yang tak pernah gentar hingga akhir hayat.

Sementara itu, tak kurang figur militer yang berjiwa kerakyatan, menjunjung supremasi sipil dalam kerangka demokrasi. Misalnya, Jenderal M. Yusuf atau pendahulunya, Jenderal A.H. Nasution dan Panglima Soedirman. Apakah Prabowo memiliki kualitas kepemimpinan luhur itu, ataukah sekadar rekayasa imaji dalam iklan?
Sepanjang abad 20 kita mengenal berbagai teori kepemimpinan. Pada tahun 1920-an Max Weber memperkenalkan konsep kepemimpinan kharismatik yang membeberkan sifat dan perilaku sosok luar biasa dalam situasi yang tak biasa, sehingga melahirkan respon masyarakat pengikut yang unik.

Pada dekade 1970-an muncul teori kepemimpinan transformasional yang membedakannya dengan kepemimpinan transaksional. Pemimpin transformasional mengilhami para pengikut tentang pentingnya upaya kolektif dan hasil yang dicapai dengan cara menempatkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan organisasi, mencari kepentingan yang lebih tinggi. Sedangkan pemimpin transaksional bersikap egoistik dan kompromistik, apapun dilakukan asal kepentingan pribadi terpenuhi.

Berbagai konsep lain kemudian bermunculan untuk menjelaskan gejala neo-kharismatik, seperti kepemimpinan melayani (servant leadership), kepemimpinan etik, spiritual atau visioner. Fenomena politik jelang Pilpres di Indonesia menunjukkan khazanah kepemimpinan yang langka.

Sejarah akan membuktikan siapa Pemimpin Otentik yang memiliki kualitas kepemimpinan sejati. Kita bersyukur masih banyak kaum muda menempa diri untuk membuktikan otensitas di berbagai bidang. Mereka menjadi diri sendiri, sambil menunggu kesempatan untuk berkontribusi dalam percaturan nasional. Jika tak ada peluang, karena sistem demokrasi saat ini semakin transaksional, maka mereka akan terus berkarya dan meraih pengakuan di sektor lain dan mancanegara.

Mantan CEO Medtronic, Bill George (2003), mengungkapkan fondasi dari kepemimpinan otentik ditentukan perjalanan hidup seseorang, termasuk peristiwa yang menjadi pemicu dan pembentuk jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Bagaimana seorang pemimpin menafsirkan sejarah dan momen hidupnya akan membentuk identitas diri, dan mempengaruhi perkembangan moral dan tata nilai yang dipegang.          

Otensitas kepemimpinan berakar dari cita ideal dan nilai etik, lalu diuji dalam perjalanan hidup, karir dan pengabdian, yang panjang; bukan hasil sebuah program pelatihan. Apalagi, sekadar pencitraan iklan, tak berhubungan dengan otensitas kepemimpinan
    
Bangsa ini akan rugi besar bila pemimpin artifisial yang tampil, bukan hanya meraup simpati publik, namun memegang otoritas yang besar. Sebab, dalam menjalankan kekuasaannya nanti dia akan terus berpura-pura dan rakyat akan tahu satu per satu topeng kelemahannya. Jangan sampai rakyat semakin kecewa karena pemimpinnya menaruh harapan palsu.

Pewarta: Oleh Musholi H Tanbih
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026