Tanggal 26 hingga 30 Oktober 2021 merupakan hari peneguh hati bagi warga Desa Pelangas, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Di hari tersebut, Kemendikbudrisrekdikti melangsungkan sidang penetapan warisan budaya takbenda Indonesia tahun 2021 oleh tim ahli warisan budaya takbenda dan menetapkan sebanyak 289 karya budaya yang berasal dari berbagai daerah sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.

Dari sebanyak 289 karya budaya warisan takbenda Indonesia yang ditetapkan, tiga objek berasal dari Bangka Barat dan satu di antaranya adalah sedekah gunung atau "taber gunong" Pelangas.

"Tahun ini kami mengusulkan empat karya budaya, namun yang disetujui untuk ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda melalui sidang penetapan warisan budaya takbenda Indonesia hanya tiga, yaitu Sedekah Gunong Pelangas, penganan pelite dan kue bludar," kata Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat Bambang Haryo Suseno.

Pada awalnya Pemkab Bangka Barat mengusulkan empat karya warisan untuk ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia, yaitu sedekah gunung Pelangas, penganan pelite, kue bruder dan roti berut, namun untuk roti berut belum memenuhi syarat.

Sedekah Gunung Pelangas atau orang kampung sekitar menyebutnya dengan "Taber Gunong Pelangas" merupakan salah satu adat istiadat, ritus atau perayaan turun temurun yang saat ini masih sering digelar masyarakat setempat.

Momentum penetapan warisan budaya takbenda tersebut merupakan kesempatan untuk bersama-sama melestarikan warisan agar semakin dikenal dan dilakukan warga secara terus-menerus.

"Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menghargai warisan budaya ini," katanya.

Gayung bersambut

Menindaklanjuti berkah penetapan tradisi lokal yang sudah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya takbenda Nusantara, kelompok sadar wisata  (pokdarwis)  dan sejumlah warga menggelar diskusi kebudayaan dengan tujuan menetapkan pondasi awal untuk bergerak bersama demi kemajuan kebudayaan sekaligus bisa menjadi pilar ekonomi warga.
 
Diskusi Kebudayaan oleh Pokdarwis Pelangas terkait pengembangan potensi Ritual adat "Taber Gunong" Desa Pelangas agar bisa menjadi pilar ekonomi masyarakat sekitar. (FOTO ANTARA/ Donatus Dasapurna)

Ketua Pokdarwis Pelangas Rahman mengatakan diskusi kebudayaan tersebut sebagai upaya untuk permajuan kebudayaan disertai produk-produk kebudayaan desa, agar terwujud kebudayaan yang unggul melalui pemajuan kebudayaan.

Dalam hal ini, warga tidak hanya dilibatkan dalam menjaga kelestarian warisan, namun juga ikut terlibat langsung dalam melindungi dan mengembangkan agar memiliki nilai ekonomi sehingga menyejahterakan masyarakat.

Nilai-nilai yang ada dalam ritual tersebut akan terus dijaga, sedangkan elemen pendukung ritual yang akan dikembangkan untuk kesejahteraan dengan pola ekonomi kreatif yang coba dikembangkan pokdarwis bersama warga setempat.

Dalam gambaran para anggota pokdarwis, pemuda dan warga setempat, nantinya akan ada produk-produk baru yang mengambil semangat "Taber Gunong Pelangas".

Berbagai kerajinan tangan warga sekitar, madu hutan, buah-buahan dan lainnya merupakan potensi yang bisa mendatangkan rezeki bagi warga dan didukung tempat penginapan dan fasilitas pendukung lainnya diharapkan bisa "memaksa" wisatawan menginap di lokasi itu yang tentunya akan memberikan manfaat dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

"Dari taber gunong ini kami ingin mengurangi pengangguran," katanya.

Sebagai langkah awal, kata dia, setelah diskusi yang digelar selama dua hari tersebut, pokdarwis menggagas untuk membuat galeri dan tata pamer di balai kampung setempat.

"Di galeri itu akan dipamerkan berbagai informasi terkait taber gunong dan berbagai produk lokal. Dari sini kita akan memulai langkah dalam pendampingan usaha warga seiring dengan penguatan jaringan pemasaran," kata Rahman.

Semangat sadar budaya

Menyikapi niat baik dan semangat warga Pelangas, pelaku dan pemerhati budaya Bangka Belitung asal Kemuje, Ahmadi Sofyan Atok Kulop menyarankan agar warga mengawali dengan membangun kesadaran budaya yang ada di sekitar tempat tinggal.

"Dengan sadar dan bangga budaya sendiri akan bisa menjadi bekal berharga dalam menggerakkan perekonomian," katanya.

Warga setempat juga disarankan belajar dengan daerah lain yang sudah terlihat bisa membangun daerah dan perekonomian berbasis budaya lokal masing-masing karena setiap daerah memiliki keunikan tersendiri.

Atok Kulop mengatakan budaya lokal, seperti permainan, kue, kuliner, pakaian, kebiasaan sehari-hari, ritual adat, dan lainnya merupakan keunikan dari setiap daerah yang tidak dimiliki daerah lain.

"Potensi tersebut yang saat ini perlu kita gali lagi dan tanamkan kepada warga agar sadar dan paham potensi yang dimiliki agar lebih mudah untuk dijaga, dilestarikan dan dikembangkan sehingga memberi manfaat mendukung perekonomian masyarakat," katanya.

Setiap desa atau komunitas juga perlu lebih jeli memanfaatkan peluang pasar sehingga produk yang dihasilkan bisa laku dan dirasakan manfaatnya oleh para pelaku usaha lokal.

"Melalui diskusi bersama kelompok sadar wisata, pemerintah desa dan komunitas ini kami harapkan bisa memberi manfaat untuk menentukan kebijakan yang akan diambil ke depan, sehingga potensi yang dimiliki semakin dikenal dan memberi manfaat ekonomi warga," katanya.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mendorong warga selalu bangga dengan berbagai produk budaya lokal dalam upaya mendukung pemajuan kebudayaan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat Hendra Jaya mengatakan upaya pemajuan kebudayaan merupakan salah satu kewajiban pemerintah, namun warga diminta juga ikut berperan aktif dalam pendataan, melindungi, menghidupi dan mengembangkan budaya yang ada di sekitar tempat tinggal.

Peran serta aktif masyarakat menjadi modal utama dalam upaya pemajuan kebudayaan dan produk-produk kebudayaan yang ada di tingkat desa, dusun atau kelompok.

"Negara memiliki tugas dan kewajiban memajukan kebudayaan, namun pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan perlu dukungan seluruh elemen masyarakat, bahkan hingga tingkat terkecil agar bisa menjalankan amanat undang undang tersebut," katanya.

Budaya dibagi menjadi dua garis besar, yaitu budaya bendawi, seperti bangunan bernilai sejarah, peralatan dan lainnya, sedangkan budaya takbenda bisa berupa ritual adat, pengetahuan, dan lainnya.

Ritual adat merupakan potensi budaya lokal yang luar biasa dan diharapkan ke depan bisa menjadi daya tarik wisata dan diupayakan adanya dukungan untuk melengkapi berbagai macam kebutuhan wisatawan, baik dari sisi infrastruktur, pelayanan, cinderamata dan kesiapan warga menerima tamu.

"Jika berbagai kebutuhan pendukung terpenuhi, kami yakin waktu kunjung wisatawan akan semakin lama, bahkan bisa menginap sehingga memberikan manfaat dalam perekonomian masyarakat. Jika hal ini berkembang maka akan membantu dalam mengatasi pengangguran dengan basis budaya yang ada," katanya.

Geosite Bukit Penyabung

Bukit Penyabung di Desa Pelangas tempat biasa digelar ritual adat tersebut merupakan salah satu lokasi yang diproyeksikan menjadi salah satu geosite dalam pilar pendukung terbentuknya Geopark Bangka Barat.

Di lokasi itu juga saat ini dikembangkan menjadi tempat rekreasi alam yang menarik, lokasi tempat belajar banyak tentang alam karena memiliki kekayaan aneka ragam flora dan fauna.

Pada akhir Oktober 2021, di lokasi itu Forum DAS Babel menggelar jambore sebagai ajang pembinaan generasi muda cinta lingkungan sekaligus membentuk relawan lingkungan.

Dalam jambore tersebut juga melibatkan sejumlah kelompok atau komunitas dan para pegiat lingkungan sehingga bisa untuk dijadikan wadah saling tukar pikiran atau informasi.

Selain sebagai tempat menimba ilmu dengan terjun langsung ke alam, melalui kegiatan itu juga diharapkan bisa mengangkat potensi budaya dan kearifan lokal dalam menjaga lingkungan.

Budaya dan kearifan lokal merupakan aset yang perlu terus dirawat, dijaga kelestariannya dan yakinlah nantinya akan memberi hidup dan akan dengan bangga menyerahkannya ke generasi mendatang.

Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta

Editor : Bima Agustian


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2021