Jakarta (Antara Babel) - Sejumlah mahasiswa di Jakarta menyayangkan demo mahasiswa yang terjadi pada 20 Oktober 2016 yang mempertontonkan penyembelihan ayam dengan tata cara yang salah, karena menurut mereka seharusnya aksi itu jangan dijadikan ajang pertunjukan melainkan untuk berunjuk rasa.

Seorang mahasiswa Univeristas Gunadarma Abdillah Novandiaji (21) mengatakan bahwa demo menyalahi aturan itu seharusnya berfokus untuk menyampaikan aspirasi, bukan untuk mempertunjukan pemotongan ayam dan darahnya ditumpahkan di atas foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

"Tindakan tersebut jelas tidak masuk akal, apa maksudnya memotong hewan dan dibiarkan sekarat karena dalam agama pun ada tata cara memotong hewan yang benar dan dengan tujuan baik. Jika pemotongan hewan itu hanya dijadikan pertunjukan saja jelas hanya mempertontonkan pembunuhan hewan saja, bukan untuk aspirasi," kata Abdillah yang menanggapi demo yang sudah terjadi di bulan Oktober 2016, tapi baru menjadi sorotan masyarakat akhir-akhir ini kepada Antara, Senin.

Abdillah juga mengatakan agar hal ini tidak terulang kembali, maka sebaiknya pihak kampus terus memantau kegiatan para mahasiswanya.

"Pihak kampus juga harus mengetahui apa yang dilakukan para mahasiswanya dalam melakukan aksi di luar kampus agar tidak merusak citra kampus," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh seorang mahasiswa Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, Muhammad Syahid, dia mengatakan  bahwa tindakan itu sama sekali tidak mencerminkan intelektualitas mahasiswa.

"Hal itu bukan tindakan aktivis kampus yang membela hak-hak masyarakat karena sebagaimana kita manusia, hewan juga pantas untuk hidup bukan jadi ajang pelampiasan seperti itu," kata Syahid yang juga pernah menjabat sebagai wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) periode 2016.

Syahid juga tidak merasa heran dengan aksi demo itu karena sebetulnya aksi-aksi mahasiswa saat ini terlalu berlebihan.

"Saya sudah tidak kaget atas tindakan tersebut karena demo-demo mahasiswa saat ini dilakukan tanpa kajian yang jelas sehingga tujuan awal aksi yaitu untuk membela kepentingan rakyat tidak pernah tercapai," ujar Syahid yang selalu terlibat dalam beberapa aksi demonstrasi mahasiswa selama dua tahun terakhir.

Aksi 20 Oktober 2016 itu diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa yang berasal 44 perguruan tinggi di Indonesia, tercatat sekitar 3000 mahasiswa menuntut pemerintah untuk merealisasikan program yang pro kerakyatan.

Dalam aksi demo itu, mahasiswa menyerukan lima tuntutan. Ada pun tuntutan tersebut adalah menindak tegas mafia, tolak reklamasi teluk Benoa, tolak perpanjangan izin ekspor konsentrat, cabut hukum kebiri, dan selesaikan akar permasalahan kejahatan seksual pada perempuan.

Pewarta: Claudia - Eka - Arnaz

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2017