Pada Pemilu dan Pilpres 2014, penggunaan kanal media untuk menyampaikan informasi dan pandangan baik dari partai politik maupun para calon presiden dan calon wakil presiden sedemikian masif sehingga ruang publik penuh dengan pesan politik dan kadang di antaranya ada yang masuk ke dalam kategori kampanye hitam.
Kampanye hitam tersebut tampaknya sudah dirasakan dua kubu capres-cawapres yang akan bertarung pada Pilpres 9 Juli 2014, Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
"Kami agak risih melihat kampanye hitam terhadap Prabowo belakangan ini. Media-media sosial yang sangat bebas, dijadikan sarana untuk menjelekkan. Beberapa LSM juga kelihatan tidak adil dalam menilai," kata Ketua DPP PAN Saleh Partaonan Daulay dalam sebuah kesempatan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah itu mengatakan pendukung pasangan calon presidan den wakil presiden seharusnya menghindari kampanye hitam karena sekarang merupakan saatnya untuk menguji visi dan program kerja masing-masing pasangan.
"Selain tidak mendidik, kampanye hitam juga dapat memudarkan semangat kebersamaan dalam membangun Indonesia," ujarnya.
Saleh mengatakan seharusnya sudah tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari Prabowo. Pasalnya, Prabowo juga ikut berkompetisi dan membangun demokrasi Indonesia dalam Pemilihan Presiden 2009 secara sah.
Itu artinya, kata dia, Prabowo telah memenuhi persyaratan administratif dan dinyatakan bersih serta pantas menjadi pemimpin Indonesia.
"Mereka yang pada Pilpres 2009 ikut mendukung Megawati-Prabowo, saat ini gencar mempersoalkan Prabowo. Itu tentu tidak fair dan cenderung memiliki agenda tersembunyi. Mengapa pada pilpres lalu mereka tidak ribut seperti sekarang," katanya.
Tak hanya kubu Prabowo, kubu Jokowi juga kerap diserang dengan kampanye hitam.
"Prinsipnya kita akan antisipasi jika terjadi kampanye hitam yang menyudutkan Jokowi-JK. Kita akan berupaya mengubah kampanye hitam itu menjadi isu positif yang justru menguntungkan," kata anggota Tim Pemenangan Gabungan Jokowi-JK, Ferry Mursyidan Baldan dalam sebuah kesempatan.
Ferry yang berasal dari Partai Nasdem itu mengatakan pihaknya secara tegas tidak akan menempuh jalan pintas kampanye hitam demi menjatuhkan pihak lawan. Menurut dia, kampanye hitam justru menunjukkan ketidakmampuan seseorang untuk memimpin bangsa.
"Kalau hanya bisa menjelekkan kompetitor bagaimana bisa memimpin bangsa," kata dia.
Intinya, kata dia, Tim Pemenangan Gabungan Jokowi-JK akan berusaha mengelola seluruh kampanye hitam sebagai poin positif.
Caranya menurut dia, dengan meyakinkan publik atas apa yang dituduhkan kampanye hitam itu tidak benar.
Presiden Prihatin
Keprihatinan atas mulai adanya kampanye hitam dalam masa menjelang pemilihan presiden, juga menjadi keprihatinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan proses pelaksanaan pemilihan presiden tidak diwarnai dengan kampanye hitam karena bukan merupakan praktik demokrasi yang baik.
"Saya tidak menginginkan jika kompetisi pilpres berlangsung kasar, saling menghancurkan dan disertai dengan kampanye hitam," kata Presiden dalam akun twitternya; @SBYudhoyono.
Kepala Negara mengatakan dalam beberapa hari terakhir ini beredar berita bahwa ia meminta masyarakat untuk tidak memilih capres tertentu karena membahayakan.
"(Imbauan itu-red) sesuatu yang tidak pernah ada," tegasnya.
Ditambahkannya, "saya menghormati kebebasan dan kedaulatan rakyat kita untuk memilih capres mana yang dipercayainya. Saya tidak punya hak untuk melarang."
Presiden mengatakan kompetisi antartim pendukung capres saat ini semakin keras dan sering melebihi kepatutannya.
"Hal begitu menurut saya tidak baik. Jika semangatnya saling menghancurkan dan merusak, maka respek dan kepercayaan rakyat akan terganggu kepada siapa pun yang terpilih nanti," papar Presiden.
Kepala Negara mengatakan menjadi Presiden bukanlah tujuan akhir, karena tujuan utama untuk menjadi Presiden adalah memimpin negara dan menjalankan pemerintahan.
"Politik memang tentang kekuasaan. Politik juga siasat. Tetapi tetaplah pada etikanya. Jangan melebihi kepatutannya. Itulah yang disukai rakyat," tegas Presiden.
Adu Program
Dalam sejumlah kesempatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan kini saatnya para calon presiden beserta pasangannya, para calon wakil presiden, menyosialisasikan program-program mereka saat menjalankan pemerintahan nantinya.
Yudhoyono meminta para tokoh yang akan maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden pada pemilihan presiden mendatang untuk mengintensifkan komunikasi dengan rakyat sehingga masyarakat memiliki gambaran visi dan solusi yang ditawarkan.
"Pasangan capres-cawapres juga memiliki makna yang penting. Rakyat melihat siapa berpasangan dengan siapa, saya berpendapat kita memilih pemimpin bangsa dan sudah saatnya, para capres meningkatkan komunikasi dengan rakyat, lima tahun mendatang negara mau diapakan, pemerintah dijalankan seperti apa, apa sasarannya, apa kebijakan, apa solusi atas permasalahan yang ada," katanya dalam wawancara yang diunggah melalui jejaring youtube.
Kepala negara mengatakan dengan komunikasi intensif tersebut maka masyarakat memilih pemimpinnya dengan cara rasional, bukan emosional.
Yudhoyono juga mengatakan penyampaian pandangan dan pemikiran arah negara lima tahun mendatang oleh para capres hendaknya tidak menunggu musim kampanye pilpres mendatang, namun bisa melalui debat dan pemaparan yang diselenggarakan oleh lembaga atau institusi independen non-media massa.
Kepala Negara mengatakan jangan sampai perhatian partai politik dan calon presiden tertuju pada upaya koalisi semata, namun juga harus bisa mengetahui apa keinginan masyarakat.
"Saya kira saat ini mereka harus lebih sering berkomunikasi dengan rakyat, saya kira pencitraan diri selesai. Rakyat ingin dengar pikiran, kebijakan, atasi masalah bangsa dan meningkatkan kesejahteraan rakyat," katanya.
Pewarta: Oleh Panca Hari PrabowoEditor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.