Pangkalpinang, (ANTARA Babel) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, memperketat pengawasan ikan berfomalin, seiring dengan berkurangnya hasil tangkapan ikan nelayan selama cuaca di perairan memburuk.

"Namun, sampai kini kami belum menemukan ikan berfomalin dan ikan yang diawetkan dengan zat kimia lainnya yang akan membahayakan kesehatan masyarakat," ujar Kabid Perikanan Tangkap DKP Kota Pangkalpinang, Langkir, di Pangkalpinang, Kamis.

Ia menjelaskan, saat ini, potensi peredaran ikan-ikan berfomalin di sejumlah pasar tradisional cukup tinggi, karena hasil tangkapan nelayan berkurang drastis untuk memenuhi konsumsi ikan masyarakat yang cukup tinggi.

"Dalam dua minggu terakhir, sebagian besar nelayan tradisional tidak melaut, karena kondisi cuaca memburuk yang ditandai gelombang tinggi dan angin kencang, sehingga pasokan ikan berkurang dan harga ikan melambung tinggi," ujarnya.

Ia mengatakan, pasokan ikan terbatas dan harga ikan yang melambung tinggi ini, dimanfaatkan pedagang-pedagang nakal untuk mendapatkan keuntungan besar dengan menjual ikan-ikan yang tidak layak konsumsi.

"Biasanya, ikan berfomalin yang beredar di masyarakat ini berasal dari kapal-kapal nelayan luar yang singgah di Tempat Pendaratan Ikan Ketapang," ujarnya.

Menurut dia, zat formalin merupakan bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet orang mati, virus, bakteri dan lainnya.

"Ciri-ciri ikan berfomalin yaitu warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar, warna daging ikan putih bersih, daging kenyal, lebih awet dan tidak mudah busuk walau tanpa pengawet seperti es, dan dijauhi lalat," katanya.

Sementara itu, ciri ikan segar tanpa formalin yaitu bila dalam satu hari pun tanpa pengawetan misalnya dengan es maka ikan akan membusuk dan tidak layak konsumsi lagi, warna ingsang merah dan cemerlang dan terlihat segar, bau ikan khas dan segar, lebih mudah busuk bila tanpa diawetkan terus dengan es dan ikan dapat dihinggapi lalat.

"Kami berharap masyarakat sebelum membeli ikan segar untuk lebih jeli dengan memperhatikan kondisi fisik ikan tersebut, karena ikan berfomalin ini dapat menimbulkan berbagai penyakit berbahaya seperti kanker, ngangguan pencernaan dan lainnya," ujarnya.

Selain itu, kata dia, kami mengimbau para pedagang ikan untuk ikut mengawasi ikan berfomalin ini, apabila menemukan ikan berfomalin untuk segera melapor kepada petugas untuk ditindaklanjuti.

"Kami akan menindak tegas pedagang, nelayan yang menjual ikan-ikan berfomalin sesuai hukum yang berlaku," ujarnya.



Editor : Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026