"Dalam sebulan terakhir, kami belum melaut mencari ikan dan memilih mencari pekerjaan sampingan dan memperbaiki peralatan tangkap ikan karena gelombang tinggi dan angin kencang masih melanda perairan Babel," ujar nelayan Kampung Opas Kota Pangkalpiang, Perdi, di Pangkalpinang, Kamis.
Ia menjelaskan, saat ini, tinggi gelombang di perairan mencapai 2--3 meter sehingga mengancam keselamatan jiwa nelayan. Masalanya, rata-rata kapal nelayan berukuran kecil sekitar 1--3 gross ton.
"Saat ini, nyawa taruhan melaut karena ketinggan gelombang 2--3 meter yang disertai angin kencang sangat mudah menghantam dan memecahkan kapal nelayan," ujarnya.
Ia mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, terpaksa bekerja serabutan, misalnya, menjadi buruh bangunan dan berjualan buah durian.
"Saat ini, kami memilih berjualan buah durian karena keuntunganya cukup besar dan bisa memenuhi kebutuhan beras, biaya sekolah, dan kebutuhan keluarga lainnya," ujarnya.
Menurut dia, pada saat musim durian ini, modal berjualan durian cukup terjangkau karena harga durian di kampung-kampung cukup murah.
"Dengan modal Rp250 ribu, kami sudah bisa mendapatkan dua keranjang durian atau sekitar 150 butir durian," ujarnya.
Demikian juga, Indra, nelayan Jalan Trem Pangkalpinang, mengaku, masih takut melaut karena gelombang tinggi dan hujan lebat disertai badai sehingga mereka terpaksa mencari kerja sampingan, seperti menjadi pemulung dan kuli bangunan.
"Saat ini, kami memilih istirahat sambil menunggu cuaca normal kembali, dan untuk mengisi waktu luang kami memperbaiki peralatan menangkap ikan, seperti perahu, jaring, dan pancing," katanya.
Apabila dipaksakan melaut akan rugi, menurut dia, hasil tangkapan ikan relatif sangat sedikit dan berisiko kecelakaan di laut sangat besar, seperti yang pernah dialami sejumlah teman mereka yang memaksakan melaut, kemudian hilang di laut.
"Saat ini, kami terpaksa menjadi pemulung di laut menggunakan perahu dan hasil dari memulung cukup lumayan karena dalam satu hari bisa memperoleh 10--20 kg barang plastik atau besi-besi bekas," ujarnya.
: Wira Suryantala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.