Pangkalpinang, (Antara Babel) - Harga karet di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung stabil, setelah sebelumnya mengalami kenaikan.

"Stabilnya harga karet saat pekan ini karena pasokan karet dari petani sudah lancar, setelah sebelumnya terganggu curah hujan yang tidak menentu sehingga mengganggu para petani mengumpulkan getah karet di kebunnya," ujar salah seorang petani di Kelurahan Tua Tunu, Bujai di Pangkalpinang, Rabu.

Ia mengatakan, harga beli pada tingkat pedagang pengumpul tergantung kualitas, untuk kualitas baik dibeli Rp10.000 per kilogram (kg) dan kualitas sedang atau basah Rp9.000 per kg atau terjadi peningkatan dibanding dua pekan sebelumnya yang hanya Rp8.000 per kg.

Biasanya para petani di Kelurahan Tua Tunu lebih banyak yang menjual karet basah, kerana lebih mudah dan cepat untuk mendapatkan hasilnya.

"Bagi petani yang memiliki perkebunan sedang atau sekitar 100 pohon, mereka biasanya lebih memilih menjual getah karet basah, karena mudah dan cepat," ujarnya.

Ia mengatakan, untuk menjual getah karet sangat mudah dan bahkan ada yang mengambil sampai ke perkebunan masing-masing.

Sementara itu, Bujai mengakui perkembangan harga getah karet saat ini lebih baik dibanding sebelumnya, karena para petani sudah bisa mengambil getah karet tanpa harus terganggu dengan hujan.

Jika terjadi hujan yang lama, maka para petani karet banyak yang merugi dan tidak bisa mengambil karet selama masih ada hujan, sebab getah karet yag bercampur dengan air hujan tidak laku dijual dan hanya bisa dibuang.

"Saya sering rugi mengambil getah karet ketika curah hujan tinggi, ketika sampai di kebun langsung turun hujan secara otomatis getah karet yang sudah akan diambil dan  terkena air hujan tidak bisa diambil dan hanya bisa dibuang," tegasnya.

Sementara itu, sebelumnya Kepala Badan Pusat Statistik Babel, Teguh Pramono mengatakan pada Januari 2013, nilai tukar petani subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-Pr) mengalami kenaikan indeks dari 117,00 menjadi 117,74.

"Kenaikan NTP-Pr sebesar 0,63 persen menggambarkan naiknya NTP-Pr yang disebabkan perubahan indeks harga yang diterima petani (IT) lebih besar dibandingkan perubahan indeks harga yang bibayar petani (IB)," ujarnya.

Ia mengatakan, kenaikan yang terjadi pada IT karena indeks pada subkelompok tanaman perkebunan rakyat naik sebesar 1,50 persen dengan pemicu utama naiknya indeks beberapa komoditi antara lain karet dan lada/merica.

Sedangkan kenaikan yang terjadi pada IB karena adanya kenaikan indeks pada kelompok Konsumsi Rumah Tangga (KRT) sebesar 0,98 persen dari 128,72 menjadi 129,98 dan kenaikan indeks pada kelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,38 persen dari 113,50 menjadi 113,93.



Editor : Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026