Tobali, Bangka Selatan, 7/2 (Antara Babel) - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung menargetkan menjadi daerah sentra produksi lada putih untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

         "Kami menargetkan 2016, Bangka Selatan sudah menjadi daerah sentra produksi lada, sehingga produksi lada petani mampu memenuhi permintaan dan konsumsi lada putih dunia yang cukup tinggi," ujar Bupati Bangka Selatan, Jamro H. Jalil di Toboali, Kamis.

         Ia menjelaskan, dalam upaya meningkatkan produksi lada putih dilakukan seoptimal mungkin, misalnya membuka lahan perkebunan lada baru, menyalurkan bantuan bibit lada berkualitas, pupuk, racun hama dan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) petani merawat tanaman untuk menghasilkan lada putih berkualitas.

         "Pada 2013 kami akan kembali membuka 100 hektare kebun lada dan menyalurkan 160 ribu bibit lada berkualitas serta bantuan pupuk dan racun hama kepada kelompok tani lada," ujarnya.

         Ia mengatakan, pada 2011 luas perkebunan lada mencapai 18.766 hektare dengan produksi 12.342 ton, tersebar di tujuh kecamatan yaitu Kecamatan Toboali, Air Gegas, Simpang Rimba, Lepar Pongok, Tukak Sadai, Pulau Besar, dan Kecamatan Payung.

         Sementara itu, ada 2010 luas perkebunan lada 17.854 hektare dengan produksi 11.289 ton, 2009 seluas 16.899 hektare dengan produksi 5.127 ton, 2008 luas perkebunan lada 13.190 hektare dengan produksi 5.280 ton, 2007 13.340 hektare produksi 6.067 ton, 2006 seluas 13.074 hektare dengan produksi 4.955 ton, 2005 seluas 12.772 hektare dengan produksi 4.509 ton, 2004 seluas 13.241 hektare dengan produksi 6.241 ton.

         "Diperkirakan luas dan produksi lada 2012 dan 2013 meningkat seiring bertambahnya luas lahan perkebunan lada dan minat petani mengembangkan lada kembali meningkat seiring harga lada putih di pasar lokal yang cukup tinggi," ujarnya.

         Menurut dia, dalam 10 tahun terakhir,produksi lada mengalami penurunan cukup drastis karena sebagian besar petani beralih menambang bijih timah, karena mereka menilai menambang timah lebih cepat menghasilkan uang dari pada berkebun lada," ujarnya.

         "Pada saat itu, petani kurang berminat untuk berkebun lada juga dikarenakan harga lada di pasaran rendah tidak sebanding dengan biaya pengelolaan dan perawatan yang dikeluarkan petani," ujarnya.

         Untuk itu, kata dia, kami meminta dinas terkait untuk terus meningkatkan berbagai bantuan kepada petani lada untuk meningkatkan minat petani mengembangkan dan meningkatkan produksi lada, sehingga dengan pengembangan lada ini meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani.

         "Kami berharap petani yang beralih menambang bijih timah untuk kembali mengelola lahan-lahan perkebunan ladanya, apabila mengalami kesulitan mendapatkan bibit, pupuk dan lainnya diharapkan untuk melapor ke Dinas Perkebunan agar dinas terkait bisa menyalurkan bantuan," ujarnya.




: Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026