"Bisa dikatakan ditemukan kalau sudah diambil, sudah dinaikkan ke atas kapal,"
Jakarta (Antara Babel) - Pencarian dan evakuasi korban serta serpihan pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ 8501 sampai babak baru setelah ditemukan "flight data recorder" (FDR), salah satu dari dua bagian yang disebut kotak hitam atau "blackbox".

Kepala Badan SAR Nasional FH Bambang Soelistyo di Kantor Basarnas di Kemayoran Jakarta Pusat, Senin, pukul 09.30 WIB mengumumkan penemuan dan pengangkatan rekaman data penerbangan (FDR) oleh tim penyelam pada Senin pagi. Ini adalah kabar paling ditunggu dalam setiap kecelakaan penerbangan.

Dengan penemuan dan pengangkatan FDR ini, pengungkapan penyebab jatuhnya pesawat jenis Airbus A320-200 itu menemukan titik terang, walaupun untuk melengkapinya masih harus ditemukan bagian "blackbox" lainnya, yaitu rekaman percakapan di kokpit (cockpit voice recorder/CVR). Tim Basarnas bersama pihak terkait terus bekerja keras untuk menemukan benda itu.

Penemuan kepastian lokasi FDR itu diperoleh setelah Kapal Baruna Jaya I milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil merekam sinyal akustik berbunyi "ping" yang diduga berasal dari kotak hitam pesawat AirAsia QZ 8501 pada frekuensi 37.5 kilohertz (khz).

Posisi pantulan "ping" datang dari arah 52.1 derajat, jarak 77.7 meter dan kedalaman 35 meter di Selat Karimata.

Informasi itu dirangkum dari hasil survei Tim Baruna Jaya BPPT yang terdiri atas 3 kapal riset, yakni Kapal Baruna Jaya I, Kapal Survei Java Imperia dan KN Trisula. Ketiga kapal tersebut sejak Sabtu (10/1) siang menemukan indikasi lokasi kotak hitam AirAsia.

Kapal Baruna Jaya I sudah melakukan berbagai upaya untuk mencari pesawat AirAsia QZ 8501 di antaranya dengan mendeteksi keberadaan pesawat itu menggunakan sonar, yakni multibeam dan side scan sonar dan kamera bawah air.

Namun koordinat "ping" dari "emergency locater transmitter" (ELT) kotak hitam ada perbedaan sejauh 20 meter antara hasil survei Kapal Baruna Jaya I dan Kapal Java Imperia yang beroperasi di bawah koordinasi Kapal Baruna Jaya untuk misi kemanusiaan ini.

Kapal Baruna Jaya I menangkap "ping" pada lokasi 3 derajat 37 menit 20.7 detik Lintang Selatan dan 109 derajat 42 menit 43 detik Bujur Timur.

Sedangkan, hasil survei Kapal Java Imperia pada titik 3 derajat 37 menit 21.13 detik Lintang Selatan, 109 derajat 42 menit 42.45 detik Bujur Timur.

Kedua lokasi tersebut kemudian diinformasikan kepada KNKT dan Basarnas.

    
Penyelam
Berdasarkan temuan itu, Basarnas mengerahkan tiga kapal untuk memastikan keberadaan kotak hitam pesawat AirAsia QZ 8501 berdasarkan sinyal "ping" yang ditangkap Kapal Baruna Jaya I.

Kemudian disiapkan tim penyelam KN Jadayat, kemudian dibantu dengan Baruna Jaya. "KRI Banda Aceh juga ada di dekat lokasi," kata  Bambang Soelistyo.

Upaya pencarian kotak hitam itu merupakan bagian dari rencana operasi pencarian hari ke-16 pada Senin (12/1) dengan memastikan sumber sinyal "ping" yang dideteksi itu.

Sinyal "ping" yang terdeteksi oleh "pinger locater" milik kapal Baruna Jaya I itu ditemukan kurang lebih 1,9 mil laut dari posisi ekor pesawat yang sudah diangkat pada Sabtu (10/1).

Dari temuan sinyal "ping" itu akhirnya benar dan ditemukan FDR.

    
Gundukan
Tim Baruna Jaya BPPT juga menduga ada gundukan di bawah permukaan air di lokasi yang memantulkan sinyal "ping" dan diduga berasal dari kotak hitam pesawat AirAsia QZ 8501 pada frekuensi 37.5 kilohertz (khz).

Geodetic Specialist BPPT Imam Mudita di Posko BPPT didampingi Tim Baruna Jaya dan Menko Maritim Indroyono Soesilo di Jakarta, Minggu (11/1)  mengatakan, dengan menggunakan sonar diduga ada semacam gundukan di bawah permukaan air tepat di lokasi yang memantulkan sinyal akustik berbunyi "ping".

"Dengan sonar itu, seperti ada gundukan di bawah. Apakah itu badan pesawat AirAsia atau bukan perlu penyelaman untuk memastikan," katanya.

Dia menegaskan, temuan Kapal Survei Baruna Jaya I melalui "pinger locator" sangat diyakini sebagai lokasi "pinger" ataupun kotak hitam AirAsia QZ 8501 karena sudah dua kali divalidasi oleh "pinger locator" Kapal Baruna Jaya I.

Sedangkan, Menko Maritim Indroyono Soesilo menyatakan, kotak hitam bisa dikatakan sudah ditemukan jika telah berhasil diambil atau dinaikkan ke atas kapal.

"Bisa dikatakan ditemukan kalau sudah diambil, sudah dinaikkan ke atas kapal," katanya untuk memastikannya dibutuhkan penyelaman sampai kedalaman 30 meter.

Indroyono Soesilo mengapresiasi kerja para ilmuwan BPPT dan menghargai dedikasi mereka terhadap kemanusiaan. Dia juga memberikan apresiasi kepada Tim Baruna Jaya yang telah sejak 30 Desember 2014 berada di lokasi operasi.

"Kapal Baruna Jaya menjadi kapal pertama yang masuk ke wilayah operasi sampai dua pekan ini bertahan di sana," katanya.


Pewarta: Sri Muryono
Editor : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026