"Untuk memenuhi kebutuhan makan saja susah, sehingga mustahil bisa memperhatikan kelangsungan pendidikan bagi anak-anaknya," kata Guru Besar Universitas Udayana Pror Dr I Wayan Windia, MS di Denpasar, Selasa.
Ia mengatakan, hasil penelitian yang dilakukan oleh salah seorang mahasiswanya menunjukan, pendapatan seorang petani lebih kecil dari seorang pengemis di objek-objek wisata yang ramai dikunjungi turis.
Seorang petani menggarap lahan seluas satu hektare hanya mampu menghasilkan sebesar Rp6 juta setiap musim panen selama tiga bulan, atau Rp2 juta per bulan, sementara seorang pengemis berpenghasilan bersih Rp2,2 juta/bulan.
Prof Windia menambahkan, petani di Bali kini menggarap lahan rata-rata 25 are, bahkan ada yang sepuluh are (1.000 meter persegi) sehingga penghasilannya sangat kurang.
Oleh sebab itu perlu terobosan untuk mengembangkan pertanian di lahan sempit, namun hasilnya mampu memberikan kesejahteraan bagi petani.
Terobosan itu antara lain memadukan pengembangan pertanian lahan basah dengan sektor peternakan, memanfaatkan limbah kotoran ternak sebagai pupuk ramah lingkungan.
Pengembangan pertanian organik itu mampu menghemat biaya produksi, namun hasilnya mempunyai nilai tinggi, karena proses produksi tidak lagi menggunakan pestisida dan bahan berbahaya lainnya bagi kesehatan manusia, ujar Prof Windia.
(I006)
Pewarta: petani Editor : Wira Suryantala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.