"Dalam sepekan terakhir, pasokan kacang kedelai meningkat seiring petani di daerah sentra produksi Pulau Jawa dan Sumatera mulai panen raya."
Pangkalpinang (Antara Babel) - Stok kacang kedelai disejumlah gudang distributor Provinsi Bangka Belitung (Babel), mencapai 124 ton dan cukup selama satu bulan ke depan untuk memenuhi permintaan warga di daerah itu.

"Dalam sepekan terakhir, pasokan kacang kedelai meningkat seiring petani di daerah sentra produksi Pulau Jawa dan Sumatera mulai panen raya," ujar Kabid Perdagang Dalam Negeri Disperindag Babel, Husni Tambrin di Pangkalpinang, Minggu.

Ia menjelaskan, stok kacang kedelai sebanyak 124 ton tersebut tersebar di gudang distributor sembako UD Mawar sebanyak 35 ton, Bangka Alam Sejahtera sebanyak 25 ton, Akon sebanyak 10 ton, CV Bina Purnama sebanyak 27 ton,  Toko Sumber Pelita sebanyak 15 ton dan stok kacang kedelai di gudang PT Globus Internusa sebanyak 12 ton.

"Stok kacang kedelai ini diperkirakan akan terus cukup untuk memenuhi kebutuhan usaha tempe, tahu dan konsumsi warga lainnya karena komoditas ini didatangkan pedagang secara kontinyu," ujarnya.

Ia mengatakan, ketersediaan kacang kedelai yang cukup ini, sehingga harga komoditas ini ditingkat pedagang masih bertahan normal.

Harga kacang kedelai impor bertahan normal Rp8.000 per kilogram dan harga kacang kedelai lokal bertahan Rp9.000 per kilogram.

"Harga kacang kedelai cukup tinggi dibanding harga daerah lainnya, karena dipengaruhi biaya transportasi dari daerah sentra produksi ke Babel," ujarnya.

Menurut dia, untuk memenuhi permintaan kacang kedelai warga, kami masih mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa dan Sumatera karena hasil perkebunan kedelai petani lokal masih terbatas seiring masih rendahnya minat petani mengembangkan komoditas tersebut.

"Harga kacang kedelai ini masih berdasarkan hukum pasar, yaitu apabila pasokan kurang dan permintaan meningkat maka pedagang akan menaikan harga komoditas tersebut, demikian juga sebaliknya, apabila pasokan lancar dan meningkat maka harga akan turun," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, kami berharap petani untuk mengembangkan komoditas ini, karena cukup menjanjikan untuk menambah pendapatan dan kesejahteraan keluarga.

"Kami berharap petani tidak terfokus mengembangkan satu komoditas saja, tetapi mengembangkan komoditas lainnya, sehingga apabila salah satu harga komoditas anjlok, petani bisa menjual hasil komoditas lainnya yang harganya masih tinggi," ujarnya.

Menurut dia, dengan mengembangkan pola pengembangan perkebunan seperti itu, petani tidak akan mengalami kerugian dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga petani tersebut.

"Selama ini, kebiasaan petani hanya mengembangkan satu jenis komoditas saja dengan pola tanam yang masih tradisional sehingga hasil yang diperoleh kurang memadai untuk menambah pendapatan keluarga," ujarnya. 


Pewarta: Oleh Aprionis
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026