Sungailiat, Bangka (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui intansi terkait melanjutkan mengembangkan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) tahun 2022 di Lingkungan Nelayan 2 Sungailiat setelah tahun 2021 berhasil mengembangkan program yang sama di Lingkungan Nelayan 1.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Kabupaten Bangka, Rismy Wira Madonna melalui keterangannya, Selasa mengatakan, rencana pengembangan lanjutan program Kotaku masih dalam tahap persiapan lelang dan jika tidak ada hambatan dijadwalkan pada Februari 2022 kegiatan tersebut sudah dapat dimulai.

Wilayah Lingkungan Nelayan 2 Sungailiat ditetapkan sebagai pengembangan program Kotaku setelah lingkungan Nelayan 1 yang terlebih dahulu dibangun karena kawasan tersebut dinilai tingkat kepadatan bangunan yang tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang, kualitas bangunan yang tidak memenuhi syarat.

Berikutnya, sistem pengelolaan air limbah tidak memenuhi persyaratan teknis, prasarana dan sarana pengelolaan air limbah tidak memenuhi persyaratan teknis serta pertimbangan syarat lainnya.

Pembangunan Kotaku memiliki tujuan umum untuk meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di permukiman kumuh perkotaan dan mencegah timbulnya permukiman kumuh baru dalam rangka mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif, dan berkelanjutan.

Program pengembangan Kotaku menekankan partisipasi aktif masyarakat mulai dari perencanaan sampai  tahap pengambilan manfaat, yaitu keterlibatan masyarakat dalam memanfaatkan pembangunan infrastruktur yang telah dibangun.

"Posisi peran aktif masyarakat terutama seperti di lingkungan Nelayan 1 Sungailiat yang lebih dulu dikembangkan program Kotaku hendaknya dapat menjaga dan merawat fasilitas yang tersedia secara berkelanjutan yakni, ruang bermain, sarana kuliner, ruang edukasi serta fasilitas umum lainnya," jelasnya.

Pembangunan yang dilakukan pemerintah tidak hanya menyediakan fasilitas intrastruktur yang dibutuhkan, namun merubah pola perspektif masyarakat dari awalnya apatis menjadi antusias, awalnya menolak kini tertarik serta dulunya mencaci  sekarang mengapresiasi.

Sumber pembiayaan program Kotaku berasal dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten atau kota, swadaya masyarakat dan pemangku kepentingan lainya stakeholder serta dari lembaga mitra pembangunan pemerintah.
 

Pewarta: Kasmono
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026